Kamis, 18 Juni 2015

Proses dan Praktik KIP/K dalam Pelayanan Kebidanan II

Proses Dan Praktik KIP/K dalam Pelayanan Kebidanan

A.    Keterampilan Konseling
Dibagian depan sudah banyak dipaparkan hal-hal berkaitan dengan ilmu komunikasi, komunikasi terapeutik, komunikasi interpersonal atau konseling, dan lain-lain. Namun pada bagian ini kita ulang dan perdalam untuk lebih dapat memahami berbagai aspek didalam praktek konseling, sebagai bagian tugas bidan melakukan keterampilan konseling kepada klien dan pasiennya, dengan harapan akan lebih efektif. Konseling harus dilakukan sesuai dengan peraturan-peraturan dan pedoman yang telah digariskan oleh suatu lembaga konseling professional yang sah secara hokum serta memiliki izin jelas. Syarat konseling professional harus ada standar akreditas dan tingkat kompetensi minimum. Seorang konselor terikat dengan kode etik, yang diantaranya harus menghargai nilai, pengalaman, pandangan, perasaan dan kemampuan klien untuk menentukan diri sendiri.

B.     Bidan sebagai Pelaku Keterampilan Konseling
Perbedaan hubungan konseling antara konselor professional dan pelaku konseling yang bukan konselor profesional ialah diantaranya :
1.      Bila konselor professional konseling dilakukan umumnya di tempat yang menjamin privasi dan kenyamanan fisik dan psikologis bagi keduanya, konselor dan kliennya. Konselor akan menjelaskan sifat dan tujuan konseling kepada kliennya, disamping itu keduanya juga akan mematui batas-batas etika konseling, misalnya konselor tidak boleh melakukan kontak fisik yang berlebihan kepada kliennya. Kemudian juga konselor terlarang untuk menjalin hubunga berdasarkan alasan-alasan pribadi dengan kliennya.
2.      Berbeda dengan bidan yang melakukan konseling kepada pasiennya. Konseling itu akan dilakukan mungkin di bangsal tempat pasien berada, atau ditempatkan kerja bidan atau dimana saja dalam lingkunga sosial lainnya
3.      Yang perlu diperhatikan ialah bahwa ketika memberi konseling konselor professional seperti ditegaskan oleh Geraid dan Gildard (2003), ialah bahwa konselor professional yang melakukan praktek hubungan konseling dengan kliennya. Akan memisahkan kepentingannya sendiri dan memusatkan diri hanya pada kebutuhan klien.
Keterampilan konseling adalah keterampilan berkomunikasi yang amat penting dan efektif guna membantu orang lain, jika hal itu diterapkan sehari-hari oleh mereka yang bukan konselor professional.
4.      Perbedaan lain antara bidan dan perawat dan pasien dibanding dengan konselor professional, maka konselor jarang memberi nasehat kepada klien, sedangkan pada prakteknya bidan atau perawat yang sedang merawat pasiennya dapat memberi nasehat atau informasi yang dibutuhkan oleh pasien. Yang penting juga untuk diketahui didalam tugas bidan melakukan keterampilan konseling ialah bahwa keterampilan konseling bidan tersebut kepada pasiennya dapat membantu :
a.       Menahan emosi sehingga pasien merasa lebih baik
b.      Menahan kekhawatiran
c.       Menemukan pemecahan masalah dari perasaan yang menggelutinya.
d.      Bersikap positif dan optimis terhadap diri pasien sendiri.

C.    Bidan Harus Percaya Diri
Istilah popular di negara ini adalah PD atau percaya diri. Bidan dalam melakukan keterampilan konseling harus PD. Seorang bidan yang merasa cemas dan tampak diwajahnya ketika memberi konseling kepada kliennya, maka kliennya juga akan merasa tidak nyaman karena ada “ pemindahan perasaan “ (Transfer feeling), yang mungkin sekali kliennya juga akan menjadi cemas. Tentu saja hal ini akan mempengaruhi interaksi secara keseluruhan (Suryani, 2008).
Untuk itu bidan harus PD atau dengan perkataan lain bidan haruslah menjadi sosok yang bisa diteladani, karena pasien (klien) membutuhkan sosok bidan seperti itu, ketika bidan sedang menolongnya, utamanya berkaitan dengan psikologi dalam suatu konseling. Hal ini penting karena bidan adalah sosok yang paling dipercaya oleh pasien (kliennya), karena bidan yang memberi asuhan kebidanan adalah orang yang paling dekat dan paling lama bersama kliennya.



Proses dan Praktik KIP/K dalam Pelayanan Kebidanan

PROSES DAN PRAKTIK KIP/K DALAM PELAYANAN KEBIDANAN

A.    Proses dan Praktik KIP/K dalam Pelayanan Kebidanan
Konseling kebidanan adalah pertolongan dalam bentuk wawancara yang menuntut adanya komunikasi, interaksi yang mendalam, dan usaha bersama antara bidan dengan klien untuk mencapai tujuan konseling yang dapat berupa pemecahan masalah, pemenuhan kebutuhan, ataupun perubahan tingkah laku atau sikap dalam ruangan lingkup pelayanan kebidanan.
Proses konseling kebidanan menggambarkan adanya kerja sama antara bidan selaku konselor dengan klien dalam mencari tahu tentang masalah yang dihadapi oleh klien dan bidan agar mencapai jalan keluar dan pemecahan masalah klien.
Keberhasilan konseling banyak ditentukan oleh keefektifan konselor dalam menggunakan beberapa tehnik. Untuk itu bidan perlu memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan proses konseling, hal-hal yang harus dilakukan konselor adalah :
  1. Membentuk kesiapan untuk konseling
Merupakan hal yag harus dipenuhi sebelum klien membuat hubungan konseling. Hal ini ditentukan oleh banyak faktor yaitu, motivasi untuk memperoleh bantuan, pengetahuan klien tentang konseling, kecakapan intelektual, tingkat tilikan terhadap masalah dan dirinya sendiri, harapan-harapan terhadap peranan konselor, system pertahanan dirinya:
Beberapa hambatan yang sering dijumpai dalam mencapai kesiapan koseling adalah:
a.       Penolakan
b.      Situasi fisik saat konseling
c.       Pengalaman konseling yang tidak menyenangkan
d.      Kurang mengerti tentang konseling
e.       Kurang dapat melakukan pendekatan
f.       Dalam lembaga, kurang terdapat iklim penerimaan terhadap konseling
  1. Penyiapan klien
a.       Orientasi pra-konseling
b.      Tehnik survei terhadap masalah klien
c.       Memberikan informasi pada klien
d.      Pembicaraan dengan berbagai topic
e.       Menghubungi sumber-sumber referal
  1. Memperoleh informasi riwayat kasus
Merupakan kumpulan informasi sistematis tentang kehidupan klien sekarang dan masa lalu. Ini penting untuk mengetahui metode konseling yang akan dilakukan. Dalam kebidanan riwayat kasus ini biasanya tercatat dalam rekam medis.
  1. Evaluasi psikodiagnostik
Ini meliputi pernyataan masalah klien, perkiraan sebab-sebab kesulitan, kemungkinan tehnik konseling, dan perkiraan hasil konseling.
Melihat hal tersebut diatas, dalam konseling, ada tiga langkah pokok yang harus dilaksanakan, yaitu:
a.       Pendahuluan
Langkah pembuka merupakan kegiatan untuk menciptakan kontak, melengkapi data klien untuk merumuskan penyebab masalah dan menentukan jalan keluar.
b.      Bagian inti/pokok
Bagian inti dalam konseling mencakup kegiatan mencari jalan keluar dan melaksanakan jalan keluar tersebut.
c.       Bagian akhir
Bagian akhir konseling merupakan kegiatan penyimpulan dari seluruh aspek kegiatan. Langkah tersebut merupakan langkah penutupan dari pertemuan dan juga penetapan untuk pertemuan berikutnya.
Setelah pelaksanaan pelayanan konseling oleh bidan diharapkan adanya kemandirian klien dalam hal sebagai berikut
a.       Peningkatan kemampuan klien dalam upaya mengenal masalah, merumuskan alternative pemecahan masalah, dan menilai hasil tindakan secara tepat dan cermat.
b.      Klien memiliki pengalaman dalam menghadapi masalah dan pelaksanaan pemecahan masalah kesehatan
c.       Klien memiliki rasa percaya diri dalam menghadapi masalah
d.      Munculnya kemandirian dalam pemecahan masalah kesehatan

B.     Perbedaan Konseling dengan Pemberian Nasehat
Konseling dan pemberian nasehat adalah dua cara pertolongan yang berbeda.
  1. Konseling
a.       Pengambilan keputusan merupakan tanggung jawab klien
b.      Konseling harus berpijak dengan kuat di dalam kerangka pemikiran klien
  1. Pemberian nasehat
a.       Pemberi nasehat berperan seakan ia seorang “ahli” dan memikul tanggung jawab lebih besar terhadap klien.
b.      Nasehat diberikan dalam kerangka pemikiran si penolong
c.       Pemberian nasehat lebih mengarahkan dan akibatnya mengambil sebagian dari tanggung jawab klien.
Persamaannya adalah konseling dan pemberian nasehat mengandung unsur-unsur pemberian informasi-informasi yang tepat.
Dalam konseling, terjadi langkah-langkah komunikasi secara timbal balik yang saling berkaitan untuk membantu klien mengambil keputusan. Tugas pertama konselor adalah menciptakan hubungan baik dengan menunjukkan perhatian dan penerimaan melalui tingkah laku verbal dan non verbal.
Kedua jenis pertolongan ini ada dalam asuhan kebidanan, sehingga bidan harus memperhatikan dan mempertimbangkan waktu kapan akan diberikan nasehat dan kapan saatnya konseling.

C.    Proses Konseling
Konseling merupakan suatu bentuk percakapan wawancara, sedangkan wawancara itu sendiri belum tentu merupakan suatu konseling.
Proses konseling menurut Saraswati dalam buku komunikasi efektif Ibu Selamat, Bayi Sehat, Keluarga Bahagia, 2002 terdiri dari 4 unsur kegiatan, yaitu:
  1. Pembinaan hubungan baik (Rapport)
Dilakukan sejak awal pertemuan dengan klien dan dijaga selama pertemuan konseling. Keterampilan membina hubungan baik merupakan dasar dari proses komunikasi interpersonal bidan dengan klien, keluarga klien, tokoh masyarakat dan sebagainya, serta merupakan dasar dari proses pemberian bantuan.
Hubungan yang baik akan memudahkan klien untuk memahami saran bidan sehingga mau mengikutinya, klien merasa puas dan akan kembali lagi untuk memeriksakan diri ke bidan.
Tahapan dalam pembinaan hubungan baik sebagai berikut:
a.       Mencari tahu seberapa klien memahami arti konseling dan apa yang dia harapkan dari seorang konselor
b.      Klien menjajaki kemungkinan keterbukaan
c.       Binalah hubungan kepercayaan
d.      Biarkan klien bercerita tentang apa yang dirasakan walaupun cerita itu tidak berurutan.
e.       Kesan pertama akan menentukan keberhasilan konseling
Perilaku respon positif yang mendukung terciptanya hubungan baik
a.       Bersalaman dengan ramah
b.      Mempersilahkan duduk
c.       Bersabar
d.      Tidak menginterupsi/memotong pembicaraan klien
e.       Menjaga kerahasian klien
f.       Tidak melakukan penilaian
g.      Mendengarkan dengan penuh perhatian
h.      Menanyakan alasan kedatangan klien
i.        Menghargai apapun pertanyaan maupun pendapat klien

  1. Penggalian informasi (identifikasi masalah, kebutuhan, perasaan, kekuatan diri dan sebagainya)
Pengumpulan informasi merupakan tugas utama konselor, pendalaman masalah yang dihadapi klien, perasaan dan kebutuhan klien, serta pemahaman klien terhadap masalah yang dipahami oleh konselor, akan berdampak baik terhadap informasi yang dibutuhkan dan dihadapi klien.
Tahapan dalam penggalian informasi :
a.       Arahkan klien agar bercerita dengan urutan yang benar
b.      Selama bercerita, perhatikan bagaimana klien berbicara (malu, marah) sikap klien terhadap konselor dan kesulitan selama berkomunikasi.
c.       Bila klien tampak cemas, tunda sampai klien dapat merumuskan ceritanya. Jangan memaksa klien jika belum siap.
d.      Penting sekali peranan dari kedua belah pihak

  1. Pengambilan keputusan, pemecahan masalah, perencanaan
Sesuai dengan masalah dan kondisi klien, konselor membantu klien memecahkan masalah yang dihadapi atau membuat perencanaan untuk mengatasi. Tahapan ini merupakan inti dari proses konseling:
a.       Konselor membantu klien memahami permasalahannya
b.      Konselor membantu memberikan alternative pemecahan masalah
c.       Konselor membantu klien memilih alternative pemecahan masalah dengan segala konsekuensinya.

  1. Menindaklanjuti pertemuan
Mengakhiri pertemuan konseling, konselor merangkum jalannya dan hasil pembicaraan selama pertemuan, merencanakan pertemuan selanjutnya atau merujuk klien disebut juga dengan tahapan penutup:
a.       Konselor mengahiri proses konseling secara bertahap
b.      Beri waktu klien untuk merenungkan berbagai alternative pemecahan masalah.
c.       Membuat perjanjian kembali
d.      Berikan dorongan dan semangat bagi klien untuk keputusan yang telah diambil.
e.       “Jalannya proses konseling sangat tergantung pada percakapan konselor klien”.


Konseling dalam Praktik Kebidanan

KONSELING DALAM PRAKTIK ASUHAN KEBIDANAN

A.    Pengertian Konseling dalam Praktik Kebidanan
Dalam praktik kebidanan, pemberian asuhan kebidanan yang berkualitas sangat dibutuhkan. Kualitas kebidanan ditentukan dengan cara bidan membuna hubungan, baik sesame rekan sejawat maupun dengan orang yang diberi asuhannya.
Konseling kebidanan adalah suatu proses pembelajaran, pembinaan hubungan baik, pemberian bantuan, dan bentuk kerja sama yang dilakukan secara professional (sesuai dengan bidangnya) oleh bidan kepada klien untuk memecahkan masalah, mengatasi hambatan perkembangan, dan memenuhi kebutuhan klien. Dalam praktik konseling kebidanan setidaknya harus ada unsur-unsur sebagai berikut:
Peserta
Umumnya berjumlah minimal dua orang (bidan dan klien), bisa juga berkelompok, dengan perananan atau afiliasi professional khusus, yaitu bidan yang memiliki pengetahuan dibidangnya.
Tujuan
Diperlukan untuk menyesuaikan diri kea rah yang lebih baik dan berfungsi meningkat, yaitu klien dapat melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.
Hasil Belajar
Mengingat pentingnya tujuan konseling kebidanan dalam membantu klien mencapai kemandirian sebagai makhluk individu, sosial, religious, cultural, dan semakin kompleksnya masalah yang dihadapi klien, maka bidan sebagai konselor dituntut untuk terus meningkatkan diri sehingga pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang berkaitan dengan layanan konseling terus berkembang.
           
B.     Tujuan Konseling dalam Praktik Kebidanan
  1. Membantu klien memecahkan masalah, meningkatkan keefektifan individu dalam pengambilan keputusan secara tepat
  2. Membantu pemenuhan kebutuhan klien, meliputi menghilangkan perasaan yang menekan/mengganggu dan mencapai kesehatan mental yang positif
  3. Mengubah sikap dan tingkah laku yang negatif menjadi positif dan yang merugikan klien menjadi menguntungkan klien.


C.    Jenis Konseling dalam Praktik Kebidanan
Konseling praktik kebidanan dibagi menjadi beberapa bentuk, yaitu:
  1. Konseling remaja dan kesehatan reproduksi remaja
Dalam menghasilkan keturunan demi kelestarian hidupnya. Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem fungsi, dan proses reproduksi remaja. Biasanya dipengaruhi oleh masalah menikah dan melakukan hubungan seksual pada usia dini, akses pendidikan dan pekerjaan, ketidaksetaraan gender, kekerasan seksual, dan pengaruh media massa. Kualitas sumber daya manusia ditentukan oleh anak-anak dan remaja.Karena ini sangat berkualitas pada kepribadian, kesehatan, maupun pendidikan.
Topik konseling remaja melipurti:
·         Remaja dan kesehatan reproduksinya.
·         Seksualitas.
·         Infeksi menular seksual.
·         Isu gender.
·         Narkoba dan zat adiktif.

  1. Konseling Ibu Hamil
Tingginya kematian ibu merupakan permasalahan, karena kematian ibu akan berdampak pada seluruh keluarga. Ini dikarenakan adanya komplikasi dari kehamilan. Di Indonesia angka kematian ibu sangat tinggi. Mengingat masih tingginya AKI, diperlukan suatu kerja sama bidan dengan ibu. Salah satu upaya yang dilakukan bidan adalah konseling.
  1. Konseling Pada Ibu Bersalin
Merupakan proses alamiah, teapi meskipun proses alamiah, tidak semua ibu bersalin  mampu beradaptasi dengan persalinan terutama pada kala 1 yang merupakan nyeri hebat bagi si ibu. Karena pada tahap ini resiko komplikasi yang dapat mengancam keselamatan ibu dan bayi.Lancarnya persalinan ditentukan oleh faktor psikologis.

  1. Koseling Ibu Nifas
1.      proses masa nifas.
2.      Keluhan umum 1-72 jam masa nifas.
3.      Tanda-tanda kegawatan masa nifas pada ibu.
4.      Tanda komplikasi masa nifas.
5.      Kebersihan ibu.
6.      Kolostrum dan pemberian ASI.
7.      Teknik menyusui
8.      Kebutuhan nutrisi ibu pada masa nifas.
  1. Konseling pada bayi
1.      Tanda-tanda kegawatan masa nifas pada bayi.
2.      Kebersihan bayi.
3.      Perawatan tali pusat bayi.
4.      Imunisasi.
5.      Status kesehatan bayi.
6.      Penilaian pertumbuhan dan perkembangan bayi.
  1. Konseling KB
1.      Memperlakukan klien dengan baik.
2.      Interaksi dengan klien.
3.      Menghindari pemberian informasi yang berlebihan.
4.      Menyediakan metode yang diinginkan klien.
5.      Membantu klien mengerti dan mengingat.

D.    Langkah Konseling dalam Praktik Kebidanan
Agar bidan dapat melakukan kegiatan konseling dengan baik dan berhasil, maka bidan harus memperhatikan langkah-langkah dalam proses konseling. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut.
Langkah Awal
Merupakan langkah penting dalam proses konseling kebidanan, keberhasilan langkah awal akan mempermudah langkah berikutnya dalam proses konseling kebidanan. Pada langkah awal tugas bidan sebagai seorang konselor adalah sebagai berikut:
-          Mengeksplorasi perasaan, fantasi, dan ketakutan sendiri
-          Menganalisis kekuatan dan kelemahan diri
-          Menentukan alasan klien minta pertolongan
-          Membina rasa percaya (trust), penerimaan, dan melakukan komunikasi secara terbuka
-          Membuat kontrak bersama
-          Mengeksplorasi pikiran, perasaan, dan perbuatan klien.
-          Mengidentifikasi masalah klien
-          Merumuskan tujuan bersama klien
Langkah Inti
Langkah kedua dari proses konseling kebidanan adalah langkah inti atau langkah pokok. Langkah ini menentukan apakah bantuan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan klien dan apakah konseling berhasil dengan baik. Tugas bidan pada langkah inti adalah sebagai berikut:
-          Mengeksplorasi stressor yang tepat
-          Mendukung perkembangan kesadaran diri klien dan pemakaian koping mekanisme yang konstruktif.
-          Mengatasi penolakan perilaku maladatif
-          Memberikan beberapa alternatf pilihan pemecahan masalah
-          Melaksanakan alternatif yang dipilih klien
-          Merencanakan tindak lanjut dari alternatif pilihan.
Langkah Akhir
Setelah melakukan kegiatan pokok dalam proses konseling, meskipun bidan bukan orang yang paling berhak untuk mengakhiri proses konseling, akan tetapi bidan harus dapat melakukan terminasi atau pengakhiran. Tugas bidan pada langkah akhir adalah sebagai berikut:
-          Menciptakan realitas perpisahan
-          Membicarakan proses terapi dan pencapaian tujuan
-          Saling mengeksplorasi perasaan, penolakan (kehilangan), sedih, marah, dan perilaku lain
-          Mengevaluasi kegiatan dan tujuan konseling
-          Apabila masih diperlukan, melakukan rencana tindak lanjut dengan membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya.

E.     Asas Konseling dalam Praktik Kebidanan
Asas Kerahasiaan
Sebagian keberhasilan layanan bimbingan banyak ditentukan oleh asas ini, sebab klien akan mau membukakan keadaan dirinya sampai dengan masalah –masalah yang sangat pribadi, apabila ia yakin bahwa konselor dapat menyimpan rahasianya. Dengan adanya keterbukaan dari klien akan memberikan kemudahan-kemudahan bagi konselor menemukan sumber penyebab timbulnya masalah.

Asas Keterbukaan
Konselor harus berusaha untuk menciptakan suasana keterbukaan dalam membahas masalah yang dialami klien. Klien terbuka menyampaikan perasaan pikiran dan keinginannya yang diperkirakan sebagai sumber timbulnya permasalahan. Namun demikian suasana keterbukaan ini sulit terwujud bilamana asas kerahasiaan tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Oleh karena itu, asas kerahasiaan akan sangat mendukung terciptanya keterbukaan klien dalam menyampaikan persoalannya.
Asas Kesukarelaan
Koselor mempunyai peran utama dalam mewujudkan asas kesukarelaan ini konselor harus mampu mencerminkan asas ini dalam menerima kehadiran klien. Bilamana konselor tidak siap menerima kehadiran klien karena satu dari lain hal, seperti tidak cukup waktu untuk berkonsultasi yang disebabkan oleh waktu yang lain, badan yang tidak enak, sedang punya masalah yang agak serius.
Asas Kegiatan
Usaha layanan bimbingan dan konseling yaitu terwujudnya perubahan dalam diri klien, yaitu perubahan tingkah laku kearah yang lebih baik sesuai dengan sifat keunikanya manusia maka konselor harus memberikan layanan seirama dengan perubahan-perubahan yang ada pada diri klien. Perubahan itu tidak hanya sekedar berupa pengulangan-pengulangan yang monoton, melainkan perubahan menuju suatu kemajuan.
Asas Kedinamisan
Asas layanan bimbingan dan konseling yaitu terwujudnya perubahan dalam diri klien, yaitu perubahan tingkah laku kearah yang baik. Sesuai dengan sifat keunikannya manusia maka konselor harus memberikan layanan seirama dengan perubahan-perubahna yang ada pada diri klien. Perubahan itu tidak hanya sekedar berupa pengulangan-pengulangan yang monoton, melainkan perubahan menuju suatu kemajuan.
Asas Keterpaduan
Kepribadian klien merupakan suatu organisasi dari berbagai macam aspek. Dalam memberikan layanan pada klien, hendaknya selalu memperhatikan aspek-aspek kepribadian klien yang diarahkan untuk mencapai keharmonisan atau keterpaduan.
Asas kenormatifan
Maksud dari asas ini adalah usaha layanan bimbingan dan konseling yang dilakukan itu hendaknya tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku, sehingga tidak terjadi penolakan bagi individu-individu yang bimbing baik penolakan dalam prosesnya maupun saran-saran atau keputusan yang bahas dalam konseling.
Asas konseling
Pelayanan bimbingan konseling adalah bersifat profesional, oleh karena itu, tidak mungkin dilaksankana oleh orang-orang yang tidak didik atau dilatih atau dipersiapkan untuk itu. Pelayanan konseling menuntut suatu keterampilan khusus, maka konselor harus benar-benar terlatih untuk itu, sehingga layanan tersebut benar-benar profesional
Asas alih tangan
Bila ditemukan masalah-masalah klien tersebut diluar bidang keahliannya. Maka konselor hendaknya segera mengalihtangankan kepada yang lain. setiap masalah hendaknya ditangani oleh ahli yang berwenang untuk itu.
Asas Tutwuri Handayani
Setelah klein mendapatkan layanan, hendaknya klien merasakan bahwa layanan tersebut tidak hanya pada saat klien mengemukakan persoalannya diluarlayanan pun hendaknya makna bimbingan dan konseling tetap dirasakan, dan terciptalah hubungan yang harmonis antara konselor dan klien. Klien hendaknya merasa terbantu dan merasa aman atas pemberian layanan.

F.     Fungsi Konseling dalam Praktik Kebidanan
Fungsi konseling adalah :
  1. Pencegahan : mencegah timbulnya masalah kesehatan.
  2. Penyesuaian : membantu klien mengalami perubahan biologis, psikologis, kultural dan lingkungan .
  3. Perbaikan : perbaikan terjadi bila ada penyimpangan perilaku klien
  4. Pengembangan : meningkatkan pengetahuan dan kemampuan serta peningkatan derajat kesehatan.
G.    Proses Konseling
1)      Pembinaan hubungan baik (rapport) : Pembinaan hubungan baik dimulai sejak awal pertemuan dengan klien dan perlu dijaga seterusnya dengan :
a.       Memberi salam pada awal setiap pertemuan.
b.      Memperkenalkan diri
c.       Menciptakan suasana nyaman dan aman.
d.      Memberikan perhatian penuh pada klien (SOLER). S : Face your clients squarely (menghadap klien) & smile/ nod at clients (senyum/ mengganggukkan kepala). O : Open and Non Judgemental Facial Expression (ekspresi muka menunjukkan sikap terbuka dan tidak menilai). L : Lean Towards Client (tubuh condong kearah klien). E : Eye Contact in a culturally- Acceptable Manner (kontak mata/ tatap mata sesuia dengan cara yang diterima budaya setempat). R : Relaxed and Friendly Manner (santai dan sikap bersahabat).
e.       Bersabar.
f.       Tidak memotong pembicaraan klien
2)      Pengambilan keputusan, pemecahan masalah dan perencanaanSetelah mendapatkan dan memberikan cukup informasi sesuai dengan masalah dan kondisi klien, konselor membantu klien memecahkan masalah yang dihadapi atau membuat perencanaan untuk mengatasi masalah. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan adalah(1) fisik, (2) emosional, (3) rasional, (4) praktikal, (5) interpesonal, (6) struktural.
3)      Menindaklanjuti pertemuan : Menindaklanjuti pertemuan konseling dengan membuat rangkuman, merencanakan pertemuan selanjutnya/ merujuk klien.

H.    Prinsip Dasar Keterampilan Konseling
Kemampuan menolong orang lain digambarkan dalam sejumlah keterampilan yang digunakan oleh seseorang sesuai degan profesinya meliputi (Hopsan, 1978):
  1. Pengajaran
  2. Nasehat dan bimbingan
  3. Pengambilan tindakan langsung
  4. Pengambilan tindakan langsung
  5. Pengelolaan
  6. Konseling