Kamis, 18 Juni 2015

Komunikasi Terapeutik yang Efektif

KOMUNIKASI TERAPEUTIK YANG EFEKTIF


A.      Pengertian Komunikasi Terapeutik
Kualitas asuhan yang diberikan kepeda klien sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan antara bidan dengan klien tersebut. Bila bidan tidak memperhatikan hal ini maka hubungan tersebut bukan menjadi hubungan yang memberikan dampak terapeutik yang akhirnya akan mempercepat proses kesembuhan klien, tetapi lebih kepada hubungan sosial biasa.
Menurut Stuart dan Sundeen juga Lindberg, Hunter, dan Kruszweski (dikutip dari Hamid, 1996), tujuan terapeutik yang diarahkan kepada pertumbuhan klien meliputi hal – hal sebagai berikut.
1.         Realisasi, penerimaan dan rasa hormat terhadap diri sendiri.
2.         Identitas diri yang jelas dan rasa integritas diri yang tinggi.
3.         Kemampuan untuk membina hubungan interpersonal yang intim serta saling ketergantungan dan mencintai.
4.         Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta tujuan personal yang realistis.

Tujuan terapeutik akan tercapai bila bidan melakukan helping relationship yang memiliki karakteristik sebagai berikut.
·           Kesadaran diri terhadap nilai yang dianutnya
Bidan harus mampu menjelaskan tentang dirinya sendiri, keyakinannya, dan apa yang menurutnya penting dalam kehidupannya setelah itu barulah ia akan mampu menolong orang lain dan menjawab pertanyaan tentang hal-hal tersebut.
·           Eksplorasi perasaan
Bidan perlu terbuka dan sadar terhadap perasaannya, serta mengontrolnya agar ia dapat menggunakan dirinya secara terapeutik (Stuart dan Sundeen, 1987, hlm. 102).
·           Kemampuan untuk menganalisis perasaannya sendiri
Bidan secara bertahap belajar mengenai dan mengatasi berbagai perasaan yang dialaminya, seperti rasa malu, marah, kecewa dan putus asa.
·           Kemampuan menjadi model peran (role model)
Bidan perlu mempunyai pola dan gaya hidup yang sehat, termasuk kemampuannya dalam menjaga kesehatan agar dapat menjadi contoh bagi orang lain terutama kliennya.
·           Altruistik
Bidan merasakan kepuasan karena mampu menolong orang lain dengan cara yang manusiawi.
·           Rasa tanggung jawab etik dan moral
Tiap keputusan yang dibuat selalu memperhatikan prinsip-prinsip yang menjunjung tinggi kesehatan dan kesejahteraan manusia. Dimensi tanggung jawab perlu diperhatikan yaitu tanggung jawab terhadap tindakan sendiri dan berbagi dengan orang lain.

Dengan memiliki karakteristik – karakteristik tersebut, diharapkan bidan dapat menggunakan dirinya secara terapeutik (therapeutic use of self) sehinggan tercapai kondisi helping relationship. Selain itu, untuk mempertajam persepsi terhadap kebutuhan orang lain perlu dikembangkan kemampuan empati. Empati adalah kemampuan untuk memasuki  kehidupan orang lain agar dapat memersepsikan pikiran dan perasaannya (Hamid, 1996). Dengan empati, bidan dapat mengetahui lebih dalam kebutuhan klien akan intervensi yang sesuai.

B.       Hubungan terapeutik
Hubungan antara bidan dengan klien merupakan hubungan terapeutik, sebagaimana halnya hubungan yang terjadi antara perawat dengan klien, dan bukan merupakan hubungan sosial. Hubungan terapeutik antara bidan dengan klien adalah hubungan kerja sama yang ditandai dengan tukar menukar perilaku, perasaan, pikiran dan pengalaman dalam membina hubungan intim yang terapeutik.

C.      Proses komunikasi terapeutik yang efektif
Proses komunikasi terapeutik yang efektif antara bidan dengan klien dapat dibagi menjadi empat fase seperti pada proses komunikasi terapeutik antara perawat dengan klien. Fase-fase tersebut adalah sebagai berikut.
·           Fase pra interaksi
Dimulai sebelum kontak pertama dengan klien.
·           Fase orientasi
Dimulai pada kontak pertama dengan klien.
·           Fase kerja
Pada fase ini bidan dan klien mengeksplorasi stresor yang tepat dan mendukung perkembangan kesadaran diri dengan menghubungkan persepsi, pikiran, perasaan dan perbuatan klien.
·           Fase terminasi
Merupakan fase yang sangat sulit dan penting dari hubungan terapeutik karena hubungan saling percaya dan hubungan intim yang terapeutik sudah terbina dan berada pada tingkat optimal.

Tabel 1. Perbedaan Hubungan Sosial dengan Hubungan Terapeutik
Komponen
Hubungan Sosial
Hubungan Terapeutik
Keterbukaan



Fokus percakapan


Topik yang tepat



Hubungan pengalaman dengan topik percakapan



Orientasi waktu


Pengungkapan perasaan



Pengakuan harkat individu
Bervariasi



Tidak dikenal oleh partisipan

Sosial, bisnis, umum, dan bukan hal pribadi


Tidak saling terkait dan menggunakan pengetahuan yang tidak berhubungan

Masa lalu dan mendatang

Pengungkapan perasaan dihindari


Tidak diakui
Klien : membuka diri
Bidan : membuka diri hanya untuk menanggapi

Dikenal oleh bidan dan klien

Hal – hal pribadi yang berhubungan dengan bidan – klien

Ada keterlibatan dan menggunakan pengetahuan yang berkaitan

Sekarang (saat ini)


Membutuhkan pengungkapan perasaan yang didukung oleh bidan

Sangat diakui 

Tabel 2. Tugas Bidan Pada Setiap Fase.
Fase
Tugas
Pra interaksi
Eksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan diri. Analisis kekuatan dan kelemahan profesional diri. Dapatkan data awal tentang klien jika mungkin. Buat rencana pertemuan pertama.
Orientasi
Tentukan alasan klien meminta pertolongan. Bina hubungan saling percaya, penerimaan dan komunikasi terbuka. Rumuskan kontrak bersama klien. Eksplorasi pikiran, perasaan dan perbuatan klien. Identifikasi masalah klien. Rumuskan tujuan bersama klien.
Kerja
Eksplorasi stresor yang tepat. Dukung perkembangan kesadaran diri klien dan pemakaian mekanisme koping yang konstruktif. Atasi penolakan perilaku maladaptif..
Terminasi
Ciptakan realitas perpisahan. Bicarakan proses terapi dan pencapaian tujuan. Saling mengeksplorasi perasaan penolakan dan kehilangan, sedih, marah serta perilaku lain.
Sumber : Stuart dan Sundeen, 1987. hlm.104.
Elemen Kontrak.
·           Nama bidan dan klien
·           Peran bidan dan klien
·           Tanggung jawab bidan dan klien
·           Harapan bidan dan klien
·           Tujuan hubungan
·           Tempat pertemuan
·           Waktu pertemuan
·           Situasi terminasi
·           Kerahasiaan

D.      Unsur-unsur dalam membangun komunikasi terapeutik yang efektif
Egan mengidentifikasi unsur dalam komunikasi terapeutik yang efektif ke dalam lima sikap (cara) dan teknik untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi yang terapeutik sebagai berikut.
·           Berhadapan
·           Mempertahankan kontak mata
·           Membungkuk ke arah klien
·           Mempertahankan sikap terbuka
·           Tetap relaks
Lima kategori komunikasi nonverbal yaitu :
·           Isyarat vokal
·           Isyarat tindakan
·           Isyarat objek
·           Ruang

·           Sentuhan 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar