Kamis, 18 Juni 2015

Komunikasi Interpersonal dalam Konseling

KOMUNIKASI INTERPERSONAL DALAM KONSELING

A.       Pengertian Komunikasi Interpersonal dalam Konseling
Beberapa ahli komunikasi mendefinisikan komunikasi interpersonal secara berbeda-beda (Miller, 1990). Pada bab ini akan dibahas definisi berdasarkan tiga unsur sebagai berikut.
1.         Definisi berdasarkan komponen (componential)
Definisi berdasarkan komponen menjelaskan komunikasi interpersonal diartikan dengan mengamati komponen-komponen utamanya, yaitu penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan peluang untuk memberikan umpan balik segera.
2.         Definisi berdasarkan pengembangan (development)
Dalam pengembangan, komunikasi interpersonal dilihat sebagai suatu akhir dari perkembangan pada komunikasi yang bersifat tidak pribadi (impersonal).
3.         Definisi berdasarkan hubungan diad (relational diadic)
Definisi menurut hubungan diad, komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang terjadi diantara dua orang (diad) atau dalam kelompok kecil. Komunikasi interpersonal merupakan suatu proses yang dinamis, sering digunakan dalam kegiatan sehari-hari dan penting untuk kehidupan sosial, seperti bertukar pikiran, menyelesaikan masalah, membuat keputusan, dan melakukan tindakan. Menurut komponennya, komunikasi interpersonal mempunyai hubungan yang mantap dan jelas.
Sedangkan menurut Jane (1994, hlm. 274), komunikasi interpersonal adalah proses penyebaran dan berbagi informasi yang dilakukan minimal oleh dua orang, secara langsung, dengan tatap muka, dan bersifat dua arah. Aspek komunikasi interpersonal meliputi komunikasi satu arah versus dua arah, komunikasi verbal versus nonverbal, cara bertanya dan mendengar efektif, serta membuat kesimpulan (paraphrasing). Kesimpulan adalah mengucapkan kembali pesan-pesan klien dengan kata-kata sendiri secara sederhana dengan tujuan :
1.        Menyakinkan diri bahwa pengirim pesan telah memahami kondisi penerima pesan.
2.        Membiarkan penerima pesan tahu bahwa pengirim pesan berusaha memahaminya.
3.        Menyimpulkan atau mengklarifikasi apa yang dikatakan penerima pesan.

Proses Komunikasi Interpersonal
Proses komunikasi interpersonal merupakan suatu proses dua arah, lingkaran interaktif dimana pihak – pihak yang berkomunikasi saling bertukar pesan secara verbal dan nonverbal (arus pesan). Kedua pihak menjadi pengirim maupun penerima pesan. Dalam prosesnya, penerima pesan menafsirkan pesan dari pengirim pesan sebelumnya dan memberi tanggapan dengan pesan yang baru. Komunikasi interpersonal merupakan proses tatap muka untuk penyampaian informasi dan saling pengertian antara dua orang atau lebih.
Model komunikasi interpersonal memfokuskan kepada diri individu masing-masing dan pesan-pesan saling dipertukarkan. Tidak satupun dari unsur yang ada berdiri sendiri. Arti dari kata yang diucapkan bisa luas interprestasinya. Perubahan interpretasi terjadi karena pengaruh karakteristik dan tujuan dari masing-masing individu, konteks budaya, penempatan pernyataan dalam pertukaran tingkah laku verbal dan nonverbal, serta sejarah hubungan antar-individu.

B.       Faktor-faktor Penghambat Komunikasi Interpersonal dalam Konseling
1.         Faktor individual
Orientasi kultural (keterikatan budaya) merupakan faktor individual yang dibawa seseorang dalam melakukan interaksi. Orientasi ini merupakan gabungan dari faktor fisik meliputi kepekaan pancaindra (kemampuan untuk melihat dan mendengar), usia, dan jenis kelamin; sudut pandang atau nilai-nilai yang dianut; serta faktor sosial diantaranya sejarah keluarga dan relasi, jaringan sosial, peran dalam masyarakat, status sosial dan peran sosial.
2.         Faktor yang berkaitan dengan interaksi
Meliputi tujuan dan harapan terhadap komunikasi, sikap terhadap interaksi, serta pembawaan diri seseorang terhadap orang lain seperti kehangatan, perhatian dan dukungan.
3.         Faktor situasional
Percakapan yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, situasi percakapan, kesehatan antara bidan dan klien akan berbeda dengan situasi percakapan antara polisi dengan pelanggar lalu lintas.
4.         Kompetensi dalam melakukan percakapan
Agar efektif, suatu interaksi harus menunjukkan perilaku kompeten dari kedua pihak. Keadaan yang dapat menyebabkan putusnya komunikasi adalah kegagalan menyampaikan informasi penting, perpindahan topik bicara yang tidak lancar dan salah pengertian.

C.       Pengaruh Pemahaman Diri Terhadap Proses Komunikasi Interpersonal dalam Konseling
Menurut model Johari Window, setiap individu tahu benar dan menyeluruh tentang dirinya sendiri. Untuk meningkatkan komunikasi interpersonal, kuadran 1 perlu dibuka lebar-lebar diantaranya dengan cara membuka diri sehingga kuadran 3 lebih mengecil, terbuka, jujur dan mau menerima kritik (umpan balik) dari orang lain dan kuadran 2 menjadi lebih kecil.
Pemahaman diri diperlukan dengan tujuan mengetahui dan mengenal diri sendiri, apakah mempunyai persepsi yang sama dengan orang lain. Pemahaman diri meliputi pengetahuan tentang siapa aku, apa kelemahanku dan kelebihanku, bagaimana perasaanku, apa keinginanku, dan lain sebagainya. Pemahaman diri meliputi kesadaran diri, klarifikasi nilai, eksplorasi perasaan dan kemampuan menjadi model.
1.         Klarifikasi nilai
Meskipun hubungan antara bidan dengan klien merupakan hubungan timbal balik tetapi kebutuhan klien selalu diutamakan. Bidan sebaiknya mempunyai sumber kepuasan dan rasa aman yang cukup, sehingga tidak menggunakan klien untuk kepuasan dan keamanannya. Jika bidan mempunyai konflik dan ketidakpuasan, maka sebaiknya bidan menyadari dan mengklarifikasi agar tidak memengaruhi keberhasilan hubungan antara bidan dengan klien. Dengan menyadari sistem nilai yang dimiliki bidan (misalnya kepercayaan, seksual, dan ikatan keluarga), bidan akan siap mengidentifikasi situasi yang bertentangan dengan sistem nilai yang dimiliki.
2.         Eksplorasi perasaan
Bidan perlu terbuka dan sadar terhadap perasaannya dan mengontrolnya agar dapat menggunakan dirinya secara terapeutik. Jika bidan terbuka pada perasaannya, maka ia mendapatkan dua informasi penting, yaitu bagaimana responsnya pada klien dan bagaimana penampilannya pada klien. Sewaktu berbicara dengan klien, bidan harus menyadari responsnya dan mengontrol penampilannya.
3.         Kemampuan menjadi model
Bidan yang mempunyai masalah pribadi, seperti hubungan interpersonal yang terganggu, akan memengaruhi hubungannya dengan klien. Bidan mungkin akan menolak dan mengatakan ia dapat memisahkan hubungan profesional dengan kehidupan pribadi. Bidan yang efektif adalah bidan yang dapat memenuhi dan memuaskan kehidupan pribadi serta tidak didominasi konflik, distres atau pengingkaran dan memperlihatkan perkembangan serta adaptasi yang sehat. Bidan diharapkan bertanggung jawab atas perilakunya serta sadar akan kekurangan dan kelemahannya.

Alasan pentingnya pemahaman diri adalah karena bidan bekerja berhadapan dengan berbagai pengalaman dan kondisi biologis, psikologis dan sosiologis dari kliennya. Bidan perlu memahami bagaimana menghadapi kecemasan, kemarahan, kesedihan dan kegembiraan klien. Bidan harus tahu bagaimana dirinya sendiri bersikap, apakah mudah cemas atau terseinggung, sehingga bidan tahu keterbatsan diri sewaktu melayani klien. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar