KOMUNIKASI
INTERPERSONAL DALAM KONSELING
A.
Pengertian
Komunikasi Interpersonal dalam Konseling
Beberapa ahli komunikasi mendefinisikan komunikasi
interpersonal secara berbeda-beda (Miller, 1990). Pada bab ini akan dibahas
definisi berdasarkan tiga unsur sebagai berikut.
1.
Definisi berdasarkan komponen (componential)
Definisi berdasarkan komponen menjelaskan komunikasi
interpersonal diartikan dengan mengamati komponen-komponen utamanya, yaitu
penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau
sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan peluang untuk memberikan
umpan balik segera.
2.
Definisi berdasarkan pengembangan (development)
Dalam pengembangan, komunikasi interpersonal dilihat sebagai
suatu akhir dari perkembangan pada komunikasi yang bersifat tidak pribadi
(impersonal).
3.
Definisi berdasarkan hubungan diad (relational diadic)
Definisi menurut hubungan diad, komunikasi interpersonal
adalah komunikasi yang terjadi diantara dua orang (diad) atau dalam kelompok
kecil. Komunikasi interpersonal merupakan suatu proses yang dinamis, sering
digunakan dalam kegiatan sehari-hari dan penting untuk kehidupan sosial,
seperti bertukar pikiran, menyelesaikan masalah, membuat keputusan, dan
melakukan tindakan. Menurut komponennya, komunikasi interpersonal mempunyai
hubungan yang mantap dan jelas.
Sedangkan menurut Jane (1994, hlm. 274), komunikasi interpersonal
adalah proses penyebaran dan berbagi informasi yang dilakukan minimal oleh dua
orang, secara langsung, dengan tatap muka, dan bersifat dua arah. Aspek
komunikasi interpersonal meliputi komunikasi satu arah versus dua arah, komunikasi
verbal versus nonverbal, cara bertanya dan mendengar efektif, serta membuat
kesimpulan (paraphrasing). Kesimpulan
adalah mengucapkan kembali pesan-pesan klien dengan kata-kata sendiri secara
sederhana dengan tujuan :
1.
Menyakinkan diri bahwa pengirim pesan telah
memahami kondisi penerima pesan.
2.
Membiarkan penerima pesan tahu bahwa pengirim
pesan berusaha memahaminya.
3.
Menyimpulkan atau mengklarifikasi apa yang
dikatakan penerima pesan.
Proses Komunikasi
Interpersonal
Proses komunikasi interpersonal merupakan suatu proses dua
arah, lingkaran interaktif dimana pihak – pihak yang berkomunikasi saling
bertukar pesan secara verbal dan nonverbal (arus pesan). Kedua pihak menjadi
pengirim maupun penerima pesan. Dalam prosesnya, penerima pesan menafsirkan
pesan dari pengirim pesan sebelumnya dan memberi tanggapan dengan pesan yang
baru. Komunikasi interpersonal merupakan proses tatap muka untuk penyampaian
informasi dan saling pengertian antara dua orang atau lebih.
Model komunikasi interpersonal memfokuskan kepada diri
individu masing-masing dan pesan-pesan saling dipertukarkan. Tidak satupun dari
unsur yang ada berdiri sendiri. Arti dari kata yang diucapkan bisa luas
interprestasinya. Perubahan interpretasi terjadi karena pengaruh karakteristik
dan tujuan dari masing-masing individu, konteks budaya, penempatan pernyataan
dalam pertukaran tingkah laku verbal dan nonverbal, serta sejarah hubungan
antar-individu.
B.
Faktor-faktor
Penghambat Komunikasi Interpersonal dalam Konseling
1.
Faktor individual
Orientasi kultural (keterikatan budaya) merupakan faktor
individual yang dibawa seseorang dalam melakukan interaksi. Orientasi ini
merupakan gabungan dari faktor fisik meliputi kepekaan pancaindra (kemampuan
untuk melihat dan mendengar), usia, dan jenis kelamin; sudut pandang atau
nilai-nilai yang dianut; serta faktor sosial diantaranya sejarah keluarga dan
relasi, jaringan sosial, peran dalam masyarakat, status sosial dan peran
sosial.
2.
Faktor yang berkaitan dengan interaksi
Meliputi tujuan dan harapan terhadap komunikasi, sikap
terhadap interaksi, serta pembawaan diri seseorang terhadap orang lain seperti
kehangatan, perhatian dan dukungan.
3.
Faktor situasional
Percakapan yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, situasi
percakapan, kesehatan antara bidan dan klien akan berbeda dengan situasi
percakapan antara polisi dengan pelanggar lalu lintas.
4.
Kompetensi dalam melakukan percakapan
Agar efektif, suatu interaksi harus menunjukkan perilaku
kompeten dari kedua pihak. Keadaan yang dapat menyebabkan putusnya komunikasi
adalah kegagalan menyampaikan informasi penting, perpindahan topik bicara yang
tidak lancar dan salah pengertian.
C.
Pengaruh
Pemahaman Diri Terhadap Proses Komunikasi Interpersonal dalam Konseling
Menurut model Johari Window, setiap individu tahu benar
dan menyeluruh tentang dirinya sendiri. Untuk meningkatkan komunikasi
interpersonal, kuadran 1 perlu dibuka lebar-lebar diantaranya dengan cara
membuka diri sehingga kuadran 3 lebih mengecil, terbuka, jujur dan mau menerima
kritik (umpan balik) dari orang lain dan kuadran 2 menjadi lebih kecil.
Pemahaman diri diperlukan dengan tujuan mengetahui dan
mengenal diri sendiri, apakah mempunyai persepsi yang sama dengan orang lain.
Pemahaman diri meliputi pengetahuan tentang siapa aku, apa kelemahanku dan
kelebihanku, bagaimana perasaanku, apa keinginanku, dan lain sebagainya.
Pemahaman diri meliputi kesadaran diri, klarifikasi nilai, eksplorasi perasaan
dan kemampuan menjadi model.
1.
Klarifikasi nilai
Meskipun hubungan antara bidan dengan klien merupakan hubungan
timbal balik tetapi kebutuhan klien selalu diutamakan. Bidan sebaiknya
mempunyai sumber kepuasan dan rasa aman yang cukup, sehingga tidak menggunakan
klien untuk kepuasan dan keamanannya. Jika bidan mempunyai konflik dan
ketidakpuasan, maka sebaiknya bidan menyadari dan mengklarifikasi agar tidak
memengaruhi keberhasilan hubungan antara bidan dengan klien. Dengan menyadari
sistem nilai yang dimiliki bidan (misalnya kepercayaan, seksual, dan ikatan keluarga),
bidan akan siap mengidentifikasi situasi yang bertentangan dengan sistem nilai
yang dimiliki.
2.
Eksplorasi perasaan
Bidan perlu terbuka dan sadar terhadap perasaannya dan
mengontrolnya agar dapat menggunakan dirinya secara terapeutik. Jika bidan terbuka
pada perasaannya, maka ia mendapatkan dua informasi penting, yaitu bagaimana
responsnya pada klien dan bagaimana penampilannya pada klien. Sewaktu berbicara
dengan klien, bidan harus menyadari responsnya dan mengontrol penampilannya.
3.
Kemampuan menjadi model
Bidan yang mempunyai masalah pribadi, seperti hubungan
interpersonal yang terganggu, akan memengaruhi hubungannya dengan klien. Bidan
mungkin akan menolak dan mengatakan ia dapat memisahkan hubungan profesional
dengan kehidupan pribadi. Bidan yang efektif adalah bidan yang dapat memenuhi
dan memuaskan kehidupan pribadi serta tidak didominasi konflik, distres atau
pengingkaran dan memperlihatkan perkembangan serta adaptasi yang sehat. Bidan
diharapkan bertanggung jawab atas perilakunya serta sadar akan kekurangan dan
kelemahannya.
Alasan pentingnya pemahaman diri adalah karena bidan
bekerja berhadapan dengan berbagai pengalaman dan kondisi biologis, psikologis
dan sosiologis dari kliennya. Bidan perlu memahami bagaimana menghadapi
kecemasan, kemarahan, kesedihan dan kegembiraan klien. Bidan harus tahu
bagaimana dirinya sendiri bersikap, apakah mudah cemas atau terseinggung,
sehingga bidan tahu keterbatsan diri sewaktu melayani klien.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar