Dalam memberikan pelayanan seorang
bidan menemukan berbagai macam klien dengan kebutuhan berbeda pula. Seorang
bidan pun harus memiliki keterampilan dalam memberikan konseling dan asuhan
sesuai dengan kebutuhan klien.
Sesuai
dengan wewenang dan ruang lingkup pelayanan kebidanan, maka bidang konseling kebidanan meliputi :
1. Fase Prelinguistic
2.
Kata
Pertama
3.
Kalimat
Pertama
4.
Kemampuan
bicara egosentris dan memasyarakat
Fase Prelinguistic
Suara pertama kali yang dikeluarkan bayi baru
lahir adalah tangisan. Hal
tersebut sebagai reaksi perubahan tekanan udara dan suhu luar uterin. Bayi menangis dikarenakan lapar, tidak nyaman oleh karena
basah, kesakitan
atau minta perhatian. Bunyi refleksi (reflek vocal) juga termasuk dalam fase
prelinguistic, yang meliputi :
a)Babling (meraban), fase ini dimulai ketika bayi tahu suaranya, senang mendengar suaranya dan kemudian diulang seperti berbicara sendiri
b)
Echolalia,
mengulang gema suara dari suara yang diucapkan orang lain.
Kata pertama Bayi merespon terhadap kata-kata familier. Fase ini dimulai usia 4-5 bulan.
Kalimat pertama periode ini dikenal sebagai permulaan berbicara komplit, usia 2 tahun sudah mulai menyusun kata-kata.
Kata pertama Bayi merespon terhadap kata-kata familier. Fase ini dimulai usia 4-5 bulan.
Kalimat pertama periode ini dikenal sebagai permulaan berbicara komplit, usia 2 tahun sudah mulai menyusun kata-kata.
Kemampuan Bicara Egosentris dan Memasyarakat
a)Repetitif (pengulangan)
c)Monolog kolektif. Menurut Lev Vygotsky, bicara
egosentris merupakan petunjuk dan bantuan bagi anak dalam menyelesaikan
masalahnya sendiri
Semantik adalah pengetahuan yang mempelajari arti kata pada bahasa yang
diajarkan. Fase ini mulai
memahami arti konkret
dan jenis kata konkret dan mulai mengetahui arti kata
abstrak.
a)Intelegensi (kecerdasan)
c)Bilingual (dua bahasa)
d)
Status
tunggal atau kembar
Proses komunikasi mengikuti perkembangan psikologis anak. Dalam hal ini, kontak kasih sayang orang tua dan anak, dapat memperkuat kepribadian anak. Bidan dapat memberikan dorongan, bantuan kepada ibu serta
pihak lain dalam memberi dukungan rangsangan aktif dalam bahasa dan emosi
1. Memperbaiki model orang tuanya
5.
Menggunakan
kata yang pasti dan benar
2. Role playing, bermain peran sebagai guru, ayah-ibu dan
sebagainnya yang dapat mengekspresikan kemampuan anak dalam hal pikiran, emosi, perasaan dan keinginan mereka secara bebas.
Tujuan komunikasi pada remaja adalah memberikan pemahaman dan upaya penyesuaian
diri terhadap perubahan
fisik dan emosi yang
terjadi. Bidan perlu menjalin hubungan komunikasi terbuka, mengungkapkan hal-hal yang belum diketahui
oleh remaja. Permasalahan yang
dapat diselesaikan dalam bentuk komunikasi terapeutik pada remaja misalnya; perubahan
fisik/ biologis sesuai
usia, perubahan
emosi dan perilaku remaja, kehamilan pada remaja, narkotika, kenakalan remaja dan hambatan dalam belajar.
3.
Memfokuskan
persoalan yang akan disampaikan
5.
menjalin
sikap terbuka dan menumbuhkan kepercayaan
Komunikasi terapeutik pada calon ibu perlu memperhatikan dan mempelajari
kondisi psikologis wanita. Bidan dapat melakukan komunikasi teraupetik pada calon ibu dengan menitikberatkan pada:
3.
Memberi bimbingan pra
perkawinan
5. Memberikan pemahaman dan upaya penyesuaian diri terhadap perubahan
fisik dan emosi serta peran yang terjadi.
Kehamilan memberikan perubahan baik secara fisiologis maupun psikologis bagi ibu hamil. Perubahan-perubahan yang bersifat fisiologis misalnya; pusing, mual, tidak nafsu makan, BB bertambah dan sebagainya. Sedangkan perubahan
psikologis yang menyertai ibu hamil diantaranya; ibu menjadi mudah tersinggung, bangga dan
bergairah dengan kehamilannya dan sebagainya.
1.
Mampu melaksanakan
asuhan dan tindakan pemeriksaan, pendidikan kesehatan dan segala bentuk pelayanan
kebidanan ibu hamil
2.
Dengan adanya komunikasi
terapeutik diharapkan dapat meredam permasalahan
psikososial yang berdampak negatif bagi kehamilan
3.
Membantu ibu sejak pra konsepsi untuk mengorganisasikan perasaannya, pikirannya untuk menerima dan
memelihara kehamilannya.
Proses persalinan merupakan hal yang fisiologis yang dialami oleh setiap wanita dan setiap individu berbeda-beda. Perubahan fisiologis pada ibu bersalin diantaranya: terjadi kontraksi uterus, otot-otot pangggul dan jalan lahir mengalami
pemekaran, dsb. Sedangkan perubahan psikologis yang sering terjadi pada ibu bersalin adalah rasa cemas pada kondisi bayinya saat lahir, kesakitan saat kontraksi dan nyeri, ketakutan saat melihat darah, dan lain sebagainya.
Pelaksaanaan
komunikasi pada saat ini, tidak hanya ditujukan pada ibu yang
akan melahirkan, tetapi juga pada pemdamping ibu. Dalam hal ini,
dapat suami ataupun keluarga yang lainnya. Komunikasi ini ditujukan untuk memberikan dukungan/ motivasi moral baik untuk ibu maupun keluarga. Komunikasi ibu bersalin difokuskan pada teknik saat bersalin dengan menerapkan asuhan sayang
ibu, penyampaian pesan diberikan secara jelas dan memberikan rasa nyaman.
Ibu
nifas juga mengalami perubahan-perubahan yang bersifat fisiologis maupun psikologis. Oleh karena itu, diperlukan juga komunikasi pada saat nifas. Perubahan fisiologis pada ibu nifas meliputi: proses pengembalian fungsi rahim, keluarnya lochea, dsb. Sedangkan perubahan psikologis meliputi: perasaan bangga setelah melewati proses persalinan, bahagia bayi telah lahir sesuai dengan harapan, kondisi-kondisi yang membuat ibu sedih saat nifas (keadaan bayi tidak sesuai harapan, perceraian, dsb).
Pelaksanaan
komunikasi yang dilakukan bidan pada ibu nifas harus memperhatikan kestabilan emosi ibu, arah
pembicaraan terfokus pada penerimaan kelahiran bayi, penyampaian informasi jelas dan mudah dimengerti oleh ibu dan keluarga, dsb.
Perubahan fisiologis yang dialami pada ibu menyusui diantaranya: pembesaran kelenjar susu oleh karena hormon, pengeluaran
ASI. Perubahan
psikologis ibu menyusui meliputi: kecemasan ibu dalam ketidaksanggupan dalam perawatan bayi, pemberian
ASI tidak maksimal, ketakutan dalam hal body
image, cemas akan kondosi bayinya. Komunikasi bidan pada saat menyusui sangat diperlukan ibu untuk pemberian motivasi dengan peranan ibu dalam kesuksesan pemberian dan perawatan bayinya.
Tidak semua akseptor KB mengalami kenyamanan dalam menggunakan alat kontrasepsi. Ada juga yang mengalami perubahan baik secara fisiologis maupun psikologis setelah penggunaan
alat kontrasepsi. Perubahan fisiologis yang sering terjadi adalah akibat dari efek samping penggunaan
alat kontrasepsi tersebut. Misalnya
pusing, BB bertambah, timbul flek-flek di wajah, gangguan menstruasi, keputihan, gangguan libido, dll. Adapun perubahan
psikologis yang dialami adalah kecemasan atau ketakutan
akan keluhan-keluhan yang terjadi, kegagalan dalam pemakaian alat kontrasepsi. Pelaksanaan komunikasi bagi akseptor KB yaitu terfokus pada KIE efek samping kontrasepsi dan cara mengatasinya, cara kerja dan penggunaan
alat kontrasepsi.
Pada
fase ini wanita juga mengalami perubahan fisiologis dan perubahan psikologis. Perubahan fisiologis yang dapat terjadi misalnya hot flash, keringat
dingin, haid tidak teratur,
dispareuni, jantung
berdebar-debar, dll. Adapun perubahan yang bersifat psikologis adalah kecemasan terhadap keluhan-keluhan yang dialami.
1.
Menjelaskan bahwa menopause adalah
salah satu siklus kehidupan wanita
2.
Deteksi dini terhadap kelainan yang
berhubungan dengan gangguan reproduksi pada usia subur maupun klimakterium
3.
Memberikan informasi tempat-tempat
pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan cek kesehatan khususnya kesehatan
reproduksi
4.
Membantu klien dalam pengambilan
keputusan
5.
Komunikasi pada menopause harus
memperhatikan sifat-sifat dari menopause itu sendiri agar pesan yang
disampaikan dapat dicerna dengan baik
6.
Karena fungsi dari organ tubuhnya
mulai berkurang maka komunikasi bisa menggunakan alat bantu untuk mempermudah
dalam memahami pesan yang disampaikan
Komunikasi bisa menggunakan beberapa
pendekatan diantaranya:
a)
Pendekatan biologis: yaitu
menitikberatkan pada perubahan-perubahan biologis yang terjadi pada menopause
seperti anatomi fisiologi serta kondisi patologi yang bersifat mutipel dan
kelainan fungsional pada menopause
b)
Pendekatan psikologis: yaitu
menitikberatkan pada pemeliharaan dan pengembangan fungsi-fungsi kognitif,
afektif, konatif, dan kepribadian secara optimal
c) Pendekatan
sosial budaya: yaitu menitikberatkan pada masalah sosial budaya yang
mempengaruhi menopause.
Prinsip komunikasi pada masa menopause adalah (1) fungsi kognitif terdiri dari: kemampuan
belajar (learning), kemampuan pemahaman (comprehension), kinerja (performance),
pemecahan masalah (problem solving), daya ingat (memory), motivasi, pengambilan keputusan, kebijaksanaan. (2) fungsi afektif, fenomena kejiwaan
yang dihayati secara subyektif sebagai sesuatu yang menimbulkan kesenangan atau
kesedihan.
(3) fungsi konatif (psikomotor), fungsi psikis yang melaksanakan tindakan dari
apa yang diolah melalui proses berpikir dan perasaan ataupun keduanya.
Wanita dengan gangguan sistem reproduksi akan mengalami gangguan atau perubahan yang bersifat fisiologis maupun psikologis. Perubahan fisiologis yang terjadi seperti keputihan, gangguan haid, penyakit
menular seksual, dll. Sedangkan perubahan yang bersifat psikologis diantaranya ibu cemas, takut akan masalah-masalah yang terjadi dan
ketidaksiapan dalam menerima kenyataan. Pelaksanaan
komunikasi pada wanita dengan gangguan sistem reproduksi adalah penjelasan kemungkinan penyebab gangguan yang dialaminya, deteksi dini terhadap kelainan sehubungan dengan gangguan reproduksi, pemberian informasi tentang layanan kesehatan, membantu dalam pengambilan keputusan dan pemberian support mental.ra lain keterlibatan dalam berinteraksi.
Pelaksanaan komunikasi:
1.
Menjelaskan penyebab/kemungkinan
gangguan yang diderita ibu
2.
Deteksi dini terhadap kelaianan yang
berhubungan dengan gangguan reproduksi
3.
Memberikan informasi tempat-tempat
pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan cek kesehatan atau rujukan khususnya
kesehatan reproduksi
4.
Membantu klien dalam mengambil keputusan
5.
Memberikan support mental.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar