Kamis, 18 Juni 2015

Konsep Dasar Komunikasi

KONSEP DASAR KOMUNIKASI

A.      Pengertian Komunikasi
Komunikasi adalah proses pengoperan lambang-lambang yang mengandung arti (Susanto, 1998).
Komunikasi merupakan berlalunya informasi dan pengertian seseorang ke orang lain (Davis, 2003).
Komunikasi mencakup ekspresi wajah, sikap dan gerak-gerik, suara, kata-kata tertulis, percetakan, telegraf, telepon dan lain-lain (Uchjana, 2003).
Komunikasi merupakan suatu proses pertukaran informasi atau proses pemberian arti sesuatu (Taylor, 1993).
Komunikasi adalah proses yang sedang berlangsung, seri dinamis dari kegiatan yang berkaitan dengan pemindahan arti dari pengirim pesan ke penerima pesan (Jane, 1994).
Dengan demikian komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau informasi dari seseorang kepada orang lain.

B.       Unsur – Unsur Komunikasi
Unsur dari proses komunikasi meliputi unsur sosial, politik, bisnis dan terapeutik.
1.         Sosial
Yaitu komunikasi yang mengandung unsur hubungan antarmanusia (HAM) dan lingkungannya.
2.         Politik
Yaitu unsur komunikasi yang berkaitan dengan politik dan biasanya digunakan dalam kehidupan bernegara.
3.         Bisnis
Yaitu komunikasi yang didasarkan ada perhitungan untung rugi.
4.         Terapeutik
Yaitu unsur yang digunakan dalam bidang kesehatan dengan tujuan untuk membantu pemecahan masalah, penyembuhan, dan pemberdayaan klien.

C.       Tujuan dan Fungsi Komunikasi
Secara umum, tujuan komunikasi adalah sebagai berikut.
·            Supaya yang disampaikan komunikator dapat dimengerti oleh komunikan. Agar dapat dimengerti oleh komunikan maka komunikator perlu menjelaskan pesan utama dengan sejelas-jelasnya dan sedetail mungkin. 
·            Agar dapat memahami orang lain. Dengan melakukan komunikasi, setiap individu dapat memahami individu yang lain dengan kemampuan mendengar apa yang dibicarakan orang lain. 
·            Agar pendapat kita diterima orang lain. Komunikasi dan pendekatan persuasif merupakan cara agar gagasan kita diterima oleh orang lain. 
·            Menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu. Komunikasi dan pendekatan persuasif kita mampu membangun persamaan presepsi dengan orang kemudian menggerakkannya sesuai keinginan kita. 
Dalam manfaat dan dampak yang ditimbulkan komunikasi memiliki fungsi-fungsi yang sangat berperan dalam kehidupan masyarakat. Secara umum, fungsi komunikasi adalah sebagai berikut.
·            Sebagai Kendali : Fungsi komunikasi sebagai kendali memiliki arti bahwa komunikasi bertindak untuk mengendalikan perilaku orang lain atau anggota dalam beberapa cara yang harus dipatuhi. 
·            Sebagai Motivasi : Komunikasi memberikan perkembangan dalam memotivasi dengan memberikan penjelasan dalam hal-hal dalam kehidupan kita. 
·            Sebagai Pengungkapan Emosional : Komunikasi memiliki peranan dalam mengungkapkan perasaan-perasaan kepada orang lain, baik itu senang, gembira, kecewa, tidak suka. dan lain-lainnya. 
·            Sebagai Informasi : Komunikasi memberikan informasi yang diperlukan dari setiap individu dan kelompok dalam mengambil keputusan dengan meneruskan data guna mengenai dan menilai pemilihan alternatif. 

D.       Komponen Komunikasi
Komponen dari proses komunikasi meliputi pengirim pesan (sender), penerima pesan (receiver), pesan (message), serta variabel pesan (message variable) yang meliputi komunikasi verbal dan nonverbal, bunyi (noise), keterampilan komunikasi (communication skill), penempatan (setting), media, umpan balik (feed back) dan lingkungan (environment).
1.         Pengirim pesan
Adalah encoder, yaitu seseorang yang mempunyai inisiatif untuk menyampaikan pesan kepada orang lain dimana pesan tersebut disampaikan secara verbal maupun nonverbal. Pengirim pesan akan menyampaikan stimulus berupa ide ke dalam bentuk yang dapat diterima oleh orang lain atau penerima pesan secara tepat.
2.         Penerima pesan
Adalah decoder, yaitu seseorang yang menerima pesan. Pengiriman dan penerimaan pesan terjadi secara bersamaan dan merupakan aktivitas dari pengirim pesan dan penerima pesan.
3.         Pesan
Adalah informasi yang dikirim oleh pengirim pesan dan diterima oleh penerima pesan. Pesan yang efektif adalah pesan yang jelas dan terorganisasi serta diekspresikan oleh pengirim pesan.
4.         Variabel pesan
Meliputi komunikasi verbal dan nonverbal, bunyi, ketrampilan komunikasi, penempatan, media, umpan balik dan lingkungan.
5.         Komunikasi verbal
Bahasa merupakan ekspresi ide atau perasaan. Kata-kata merupakan alat atau simbol yang dipakai untuk mengekspresikan ide atau perasaan, mengembangkan dan membangkitkan respons emosional, atau menguraikan objek, observasi dan ingatan.
6.         Komunikasi non verbal
Merupakan penyampaian pesan tanpa menggunakan kata-kata. Perilaku nonverbal yang umum adalah menangis, tertawa, berteriak atau menjerit, dan mengerang. Bentuk lain dari komunikasi ini meliputi ekspresi wajah, suara atau bunyi, isyarat, sikap tubuh dan cara berjalan.
7.         Suara atau bunyi
Bunyi mengacu pada sistem komunikasi untuk menghindari penyampaian pesan yang tidak akurat.
8.         Ketrampilan komunikasi
Meliputi kemampuan pengirim dan penerima pesan untuk mengobservasi, mendengar, mengklarifikasi dan memvalidasi arti pesan.
9.         Penempatan
Mengacu pada tempat atau lokasi dimana komunikasi berlangsung
10.     Media
Merupakan channel sensory yang membawa pesan. Channel sensory meliputi pendengaran, penglihatan, peraba, perasa dan penciuman. Sebagai contoh, bidan melalui channel sensory penglihatan, melihat air mata klien.
11.     Umpan balik
Merupakan proses lanjutan dari pesan yang diterima. Penerima pesan akan memberikan tanggapan atau pesan kembali kepada pengirim pesan. Umpan balik ini membantu memberikan kejelasan kepada pengirim pesan bahwa pesan yang dikirim dapat diterima dengan tepat oleh penerima pesan atau sebaliknya. Respons verbal atau nonverbal dari penerima pesan memberikan umpan balik kepada pengirim pesan.
12.     Lingkungan
Proses komunikasi dipengaruhi oleh lingkungan internal dan eksternal. Faktor eksternal meliputi suhu ruangan, tingkat kebisingan suara, bau dan pencahayaan. Sedangkan faktor internal hanya diketahui oleh individu, misalnya perasaan lelah membuat seseorang malas untuk melakukan komunikasi.

E.       Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi
Hambatan-hambatan dalam proses berkomunikasi sangatlah kompleks, menurut Potter dan Perry (1993), tahap perkembangan, persepsi, nilai, latar belakang budaya, emosi, pengetahuan, peran dan tatanan interaksi dapat mempengaruhi isi pesan dan sikap penyampaian pesan, sehingga komunikasi interpersonal menjadi lebih kompleks.
1.         Tahap perkembangan.
Lingkungan yang diciptakan oleh orang tua mempengaruhi kemampuan anak untuk berkomunikasi. Bidan menggunakan teknik khusus ketika berkomunikasi dengan anak sesuai tahap perkembangannya. Oleh karena itu, agar dapat berkomunikasi secara efektif dengan anak, bidan harus mengerti pengaruh perkembangan bahasa dan prooses berpikir yang mempengaruhi cara dan sikap anak dalam berkomunikasi.
2.         Persepsi.
Merupakan pandangan personal terhadap suatu kejadian. Persepsi dibentuk oleh harapan dan pengalaman. Perbedaan persepsi dapat menghambat proses komunikasi.
3.         Nilai.
Merupakan standar yang mempengaruhi perilaku seseorang sehingga penting bagi bidan untuk menyadari nilai seseorang. Berusaha mengetahui dan mengklarifikasi nilai seseorang merupakan hal penting dalam membuat keputusan dan interaksi. Dalam hubungan profesionalnya, seorang bidan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai personalnya.
4.         Latar belakang budaya.
Sering kali ketika memberikan asuhan, bidan menggunakan bahasa dan komunikasi yang berbeda. Gaya komunikasi sangat dipengaruhi oleh faktor budaya. Budaya juga membatasi cara bertindak dan berkomunikasi.
5.         Emosi
Merupakan perasaan subjektif mengenai suatu peristiwa. Cara seseorang berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain dipengaruhi oleh keadaan emosinya. Emosi mempengaruhi kemampuan salah tafsir atau tidak mendengarkan pesan yang disampaikan. Bidan dapat mengkaji emosi klien dengan cara mengobservasi klien ketika berinteraksi dengan keluarga, dokter, perawat atau bidan lainnya. Bidan juga perlu mengevaluasi emosinya karena sangat sulit untuk menyembunyikan emosi, sementara klien sangat perseptif terhadap emosi yang terpindahkan melalui komunikasi interpersonal.
6.         Pengetahuan
Komunikasi sulit dilakukan jika orang yang berkomunikasi memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda. Bidan mengkaji tingkat pengetahuan klien dengan memperhatikan respons klien terhadap pertanyaan yang diajukan. Setelah pengkajian, bidan menggunakan istilah dan kalimat yang dimengerti oleh klien sehingga dapat menarik perhatian dan minatnya.
7.         Peran
Gaya komunikasi sesuai dengan peran dan hubungan orang yang berkomunikasi. Gaya bidan berkomunikasi dengan klien akan berbeda dengan caranya berbicara dengan dokter, perawat atau bidan lainnya. Bidan perlu menyadari perannya saat berinteraksi dengan klien ketika memberikan asuhan. Bidan menyebut nama klien untuk menunjukkan rasa hormatnya dan tidak menggunakan humor jika baru mengenal klien.
8.         Tatanan interaksi
Komunikasi interpersonal akan lebih efektif jika dilakukan dalam suatu lingkungan yang menunjang. Kebisingan, kurangnya keleluasaan pribadi atau privasi, dan ruangan yang sempit dapat menimbulkan kerancuan, ketegangan dan ketidaknyamanan. Bidan perlu memilih tatanan yang memadai ketika berkomunikasi dengan klien.
Selain faktor-faktor diatas, faktor dari pengirim dan penerima pesan yang dapat berpengaruh adalah kecakapan, sikap (keterbukaan, rasa percaya, rendah hati, pendengar yang baik dan ekspresi wajah yang mendukung), pengetahuan dan sistem sosial.
1.         Kecakapan.
Menentukan keberhasilan seseorang dalam berkomunikasi, bagaimana ia menggunakan gaya, teknik dan mengatasi hambatan komunikasi.
2.         Sikap.
Dalam berkomunikasi diperlukan sikap yang dapat menunjang proses komunikasi. Sikap yang menunjang proses komunikasi antara lain kontak mata, posisi yang berhadapan, anggukan kepala, serta tidak melipat tangan atau kaki.
3.         Jarak fisik.
Penentuan jarak (space) dalam berkomunikasi sangat mempengaruhi proses komunikasi. Jarak yang dianjurkan pada komunikasi dua orang adalah ± 1 m, komunikasi lebih dari dua orang adalah ± 1 – 2 m, dan komunikasi massa adalah ± 2 – 3 m.
4.         Indra.
Fungsi indra yang rusak atau terganggu akan mempengaruhi proses komunikasi. Sebagai contoh, komunikasi dengan orang yang pendengarannya terganggu tidak bisa menggunakan komunikasi secara verbal.
5.         Prasangka tidak beralasan atau persepsi yang salah.
Proses komunikasi dapat terganggu karena adanya prasangka yang tidak beralasan. Hal ini dikarenakan adanya perasaan curiga atau pikiran negatif dari pengirim atau penerima pesan. Seorang bidan yang mempunyai pikiran negatif terhadap kliennya dapat menimbulkan rasa tidak hormat terhadap klien, menurunkan partisipasi dan mengurangi rasa keterbukaan klien.
6.         Terlalu mendominasi pembicaraan.
Proses komunikasi yang tidak efektif dan efisien dapat terjadi karena salah satu pihak terlalu mendominasi pembicaraan. Tidak memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengungkapkan perasaannya dapat menyebabkan komunikasi menjadi pasif, datar dan tidak dinamis
7.         Pengetahuan
Pengetahuan mengenai komunikasi yang kurang akan mempersulit seseorang dalam mengkaji kebutuhan orang lain serta tidak dapat memahami orang lain, teman sekerja, dan isi pekerjaan.
8.         Sistem sosial.
Latar belakang budaya dan bahasa sangat penting dalam berkomunikasi. Seseorang yang tidak paham mengenai nilai sosial akan sulit untuk melakukan komunikasi. Sebagai contoh, bidan yang berasal dari Jawa Timur akan mengalami kesulitan dalam hal bahasa dan kebiasaan apabila dia menjalani dinas di Jawa Barat – yang notabene – bahasa yang dipakai adalah bahasa Sunda.

F.       Bentuk – bentuk Komunikasi
1.         Komunikasi massa
Disebut juga dengan komunikasi kelompok atau grup. Komunikasi massa merupakan penyampaian pesan dari seseoran kepada sekelompok besar orang, biasanya sebagian besar masyarakat. Sebagai contoh, pemberian penyuluhan kepada sekelompok ibu hamil tentang senam hamil.
2.         Komunikasi intrapersonal
Disebut juga komunikasi individual. Komunikasi intrapersonal merupakan penyampaian pesan seseorang kepada dirinya sendiri.
3.         Komunikasi interpersonal
Merupakan dasar penting dalam melakukan konseling kepada klien. Komunikasi interpersonal adalah penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain yang bersifat dua arah baik secara verbal maupun nonverbal. Sebagai contoh, komunikasi yang terjalin antara bidan dengan kliennya.
4.         Komunikasi kelompok
Merupakan salah satu bentuk komunikasi interpersonal, menyangkut komunikasi seseorang dengan beberapa orang lainnya. Komunikasi kelompok kecil adalah kelompok yang terdiri atas tiga sampai sepuluh orang. Masing-masing anggota kelompok menyadari keberadaan anggota lainnya, memiliki minat yang sama, dan/atau bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
5.         Komunikasi verbal
Komunikasi ini terkait dengan penggunaan kata-kata atau tulisan. Bahasa dapat efektif jika pengirim pesan dan penerima pesan dapat mengerti pesan secara jelas, penambahan satu kata dapat mengubah arti kalimat. Seorang bidan sering kali menangani klien dari berbagai daerah yang berkomunikasi menggunakan bahasa daerahnya. Perbedaan bahasa ini biasanya dapat menimbulkan salah paham atau salah persepsi. Oleh karena itu, untuk membuat pesan menjadi jelas dan relevan, perawat harus menguasai teknik komunikasi verbal yang efektif. Karakteristik komunikasi verbal yang efektif adalah sebagai berikut :
a.         Jelas dan ringkas, Komunikasi yang efektif harus sederhana, pendek dan langsung. Penggunaan contoh dapat membuat penjelasan menjadi lebih mudah dipahami. Ulangi bagian penting dari pesan yang sedang disampaikan. Penerima pesan perlu mengetahui apa, mengapa, bagaimana, kapan, siapa dan dimana. Ringkas, dengan menggunakan kata-kata yang mengekspresikan ide secara sederhana. Penggunaan kalimat “Katakan pada saya dimana rasa nyeri Anda” lebih baik daripada “Saya ingin Anda menguraikan kepada saya bagian yang Anda rasakan tidak enak”.
b.        Perbendaharaan kata, Komunikasi tidak akan berhasil jika penerima pesan tidak mampu menerjemahkan kata dan ucapan pengirim pesan. Banyak istilah teknis yang digunakan dalam kebidanan, keperawatan dan kedokteran. Jika istilah teknis ini digunakan oleh bidan, klien menjadi bingung dan tidak mampu mengikuti petunjuk atau mempelajari informasi penting. Ucapkan pesan dengan istilah yang dimengerti oleh klien. Lebih baik jika bidan menggunakan kalimat “Coba Ibu tidur telentang, sementara saya akan periksa kehamilan Ibu” daripada menggunakan kalimat “Tidurlah, sementara saya palpasi perut Ibu”.
c.         Arti denotatif dan konotatif, Suatu kata dapat mengandung beberapa arti. Arti denotatif memberikan pengertian yang sama terhadap kata yang digunakan, sedangkan arti konotatif merupakan pikiran, perasaan, atau ide yang terdapat dalam suatu kata.
d.        Intonasi, Bunyi suara pembicaraan dapat mempengaruhi arti pesan. Kalimat sederhana, seperti “Bagaimana keadaan Ibu?” dapat diekspresikan dengan penuh perhatian, gembira, susah dan lain-lain. Emosi seseorang secara langsung mempengaruhi intonasi suaranya.
e.         Kecepatan berbicara, Keberhasilan komunikasi verbal dipengaruhi oleh kecepatan berbicara. Bidan sebaiknya tidak berbicara terlalu cepat sehingga kata-katanya menjadi tidak jelas. Bidan perlu menanyakan kepada klien apakah ia berbicara terlalu cepat atau terlalu lama.
f.          Humor, Dugan (1989) menyatakan bahwa tertawa membantu mengurangi ketegangan dan rasa sakit yang disebabkan oleh stres serta dapat meningkatkan keberhasilan bidan dalam memberikan dukungan emosional terhadap klien. Namun, bidan perlu berhati-hati agar tidak menggunakan humor untuk menutupi ketidakmampuannya dalam berkomunikasi dengan klien.
6.         Komunikasi non verbal
Disebut juga bahasa tubuh, meliputi isyarat, pergerakan tubuh dan penampilan fisik. Bidan perlu menyadari pesan verbal dan non verbal yang disampaikan klien mulai dari saat pengkajian sampai evaluasi karena isyarat non verbal menambah arti terhadap pesan verbal. Bidan yang memersepsikan pesan nonverbal akan lebih mampu memahami dan mendeteksi kondisi klien serta menentukan kebutuhan asuhan yang tepat untuk klien. Komunikasi non verbal dapat diamati pada karakteristik sebagai berikut :
a.         Penampilan fisik, Penampilan seseorang meliputi karakteristik fisik dan cara berpakaian. Pakaian dan perhiasan (dandanan) merupakan sumber informasi tentang seseorang. Pakaian menggambarkan status sosial, budaya, agama, konsep diri dan lain-lain. Bidan yang memperhatikan penampilan dirinya dapat menggambarkan citra diri yang positif dan sikap profesional. Penampilan fisik bidan mempengaruhi persepsi klien terhadap pelayanan atau asuhan yang diterimanya karena tiap klien mempunyai citra bagaimana seharusnya penampilan seorang bidan.
b.        Sikap tubuh dan cara berjalan, sikap tubuh dan cara berjalan menggambarkan konsep diri, mood dan kesehatan. Bidan dapat mengumpulkan informasi yang bermanfaat dengan mengamati sikap tubuh dan cara berjalan klien. Sikap tubuh yang tegang dan melangkah cepat menandakan seseorang sedang cemas atau marah. Cara berjalan dapat dipengaruhi oleh faktor fisik seperti rasa sakit, obat atau gangguan fungsi tubuh (fraktur).
c.         Ekspresi wajah, wajah merupakan bagian tubuh yang paling ekspresif. Perasaan marah, sedih, terkejut, santai, bahagia, jijik dan bosan dapat digambarkan melalui ekspresi wajah. Klien dapat mengenali ekspresi wajah bidan. Oleh karena itu, bidan harus belajar mengontrol perasaan seperti marah, situasi yang menjemukan dan lainnya. Kontak mata adalah elemen penting dalam komunikasi nonverbal. Orang yang mempertahankan kontak mata selama pembicaraan dipersepsikan sebagai orang yang dapat dipercaya.
d.        Sentuhan, Kasih sayang, dukungan emosional dan perhatian disampaikan melalui sentuhan. Sentuhan merupakan bagian yang penting dalam hubungan antara bidan dengan klien, namun harus diperhatikan juga norma sosial. Perlu diperhatikan juga apakah penggunaan sentuhan dapat dimengerti dan diterima oleh klien.  Ketikan memberikan pelayanan, bidan menyentuh klien, seperti ketika melakukan pemeriksaan fisik.

G.      Ringkasan
Komunikasi merupakan metode utama dalam mengimplementasikan manajemen asuhan kebidanan karena kepuasan klien terhadap asuhan dipengaruhi oleh sikap bidan saat berkomunikasi dengan klien. Oleh karena itu, bidan harus mengerti konsep dan proses komunikasi serta menerapkan ketrampilan komunikasi. Selain itu, bidan perlu menggunakan diri sendiri secara terapeutik saat berhadapan dengan klien. Dengan demikian diharapkan dapat dicapai asuhan kebidanan yang berkualitas.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar