HUBUNGAN ANTAR MANUSIA
A.
Pengertian
Hubungan Antarmanusia
Hakikat dari hubungan antarmanusia adalah komunikasi
antarpribadi. Hubungan antarmanusia sebenarnya dilandaskan pada adanya
kepentingan-kepentingan individual. Hubungan antarmanusia diartikan sebagai
suatu proses interaksi antar-individu untuk mempertahankan keseimbangan agar
tercipta suatu keserasian, keselarasan dan kebahagiaan dalam tatanan kehidupan
manusia.
Kualitas hubungan antarmanusia ditentukan oleh model
individu dalam menerapkannya. Teori (model) dan kualitas hubungan antarmanusia
digolongkan menjadi tiga, yaitu transaksional (pertukaran sosial), peran dan
permainan yang akan dijelaskan sebagai berikut.
1.
Teori transaksional
Teori transaksional merupakan suatu proses dimana
komponen-komponennya saling terkait dan masing-masing personalnya bereaksi
sebagai suatu kesatuan atau keseluruhan. Kaidah dari teori transaksional selalu
dikaitkan dengan hubungan antarmanusia yang harus didasarkan pada pertimbangan
untung dan rugi.
2.
Teori peran
Teori ini lebih menekankan pada suatu pergaulan sosial dengan
skenario yang sudah disusun di masyarakat. Setiap hubungan antarmanusia diatur
oleh tatanan kehidupan yang ada dimasyarakat dan masyarakat tersebut mengatur
bagaimana setiap manusia harus berperan dalam pergaulan sehari-hari. Teori
peran mempertimbangkan keselarasan (harmonisasi) dalam kehidupan sehari-hari.
Apabila manusia sebagai individu dapat memenuhi tatanan tersebut, maka
kehidupannya akan menuju pada suatu keadaan yang harmonis. Sebaliknya, apabila
menyalahi atau tidak sesuai, maka akan dicemooh.
3.
Teori permainan
Teori permainan memperhatikan fase manusia sepanjang siklus
kehidupannya, dimulai sejak masa kanak-kanak, dewasa, sampai tua. Pada masa
kanak-kanak, hubungan cenderung manja. Pada masa dewasa, pergaulan atau
hubungan antarmanusia menjadi suatu kesadaran, tanggung jawab dan lugas. Di
masa ini, manusia akan menyadari akibat dan risiko dari suatu hubungan.
Sedangkan pada masa tua, manusia akan memaklumi kesalahan orang lain dan
hubungan diartikan sebagai suatu perasaan saling menyayangi.
B.
Tujuan
Hubungan Antarmanusia
Hubungan antarmanusia bukanlah merupakan suatu hubungan
tanpa arah dan tujuan. Hubungan yang baik adalah suatu proses yang mempunyai
arah dan tujuan. Tujuan dari hubungan antarmanusia diantaranya adalah
mengurangi kesepian, mendapatkan rangsangan, mendapatkan pemahaman diri
(self-knowledge), serta memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan penderitaan.
Hubungan antarmanusia mempunyai lima tahap, yaitu kontak,
keterlibatan, keakraban, perusakan dan pemutusan.
![]() |
1.
Kontak.
Tahap pertama pada hubungan antarmanusia adalah membuat
kontak. Beberapa macam persepsi alat indra adalah melihat, mendengar dan
membau. Selama tahap ini dalam empat menit pertama interaksi awal, individu
tersebut harus memutuskan apakah ingin melanjutkan hubungan atau tidak. Pada
tahap inilah penampilan fisik begitu penting, karena dimensi fisik paling
terbuka untuk diamati secara mudah. Namun, kualitas-kualitas lain seperti sikap
bersahabat, kehangatan, keterbukaan dan kedinamisan juga terungkap pada tahap
ini. Jika menyukai hubungan pada tahap ini, maka individu tersebut dapat
melanjutkan ke tahap kedua.
2.
Keterlibatan.
Tahap keterlibatan adalah tahap pengenalan lebih jauh, ketika
mengikatkan diri untuk lebih mengenal individu lain dan juga mengungkapkan
diri. Jika ini merupakan hubungan persahabatan, maka kedua pihak mungkin
melakukan sesuatu yang merupakan minat bersama.
3.
Keakraban
Pada tahap keakraban, ada rasa saling keterikatan atau
ketergantungan. Kemungkinan pada tahap ini terbina hubungan primer (primary
relationship), dimana rasa persahabatan dan saling percaya akan timbul.
4.
Perusakan.
Dua tahap berikutnya merupakan penurunan hubungan ketika
ikatan di antara kedua pihak melemah. Pada tahap perusakan mulai ada rasa bahwa
hubungan yang telah terjalin tidaklah sepenting sebelumnya, semakin sedikit
waktu senggang, kedua pihak saling berdiam diri, dan tidak lagi banyak
mengungkapkan diri. Jika tahap ini berlanjut, berarti memasuki tahap pemutusan.
5.
Pemutusan.
Terjadi pemutusan ikatan yang mempertalikan kedua pihak. Jika
bentuk ikatan tersebut adalah perkawinan, maka pemutusan hubungan dilambangkan
dengan perceraian, walaupun pemutusan hubungan aktual dapat berupa hidup
berpisah. Ada kalanya terjadi peredaan; kadang-kadang ketegangan dan keresahan
semakin meningkat, permusuhan dan marah-marah terus terjadi.
C.
Teknik
– teknik hubungan Antarmanusia
Dalam membina hubungan antarmanusia ada lima kualitas atau
ancaman umum yang harus dipertimbangkan, yaitu keterbukaan (openness), empati (empathy),
sikap mendukung (supportiveness),
sikap positif (positiveness) dan
kesetaraan (equality).
1.
Keterbukaan
Keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi
antarpribadi yang efektif harus terbuka kepada orang yang diajak berinteraksi.
Hal ini bukan berarti bahwa seseorang harus dengan segera membukakan semua
riwayat hidupnya kepada orang lain. Sebaliknya, harus ada kesediaan membuka
diri atau mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan. Aspek
keterbukaan yang kedua mengacu pada kesediaan seseorang untuk bereaksi secara
jujur terhadap stimulus yang datang. Orang yang diam, tidak kritis dan tidak
tanggap pada umumnya akan menjemukan apabila melakukan hubungan dengan yang
lain. Aspek ketiga menyangkut kepemilikan perasaan dan pikiran (Bochner dan
Kelly, 1974). Terbuka dalam pengertian ini adalah mengakui bahwa perasaan dan
pikiran merupakan milik individu dan harus dipertanggungjawabkan.
2.
Empati
Menurut Backrac (1976), empati adalah kemampuan seseorang
untuk mengetahui apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu,
dari sudut pandang orang lain itu, melalui kacamata orang lain itu. Jadi dapat
dikatakan, berempati adalah merasakan sesuatu seperti orang yang mengalaminya,
berada di kondisi yang sama, merasakan perasaan yang sama, dengan cara yang
sama. Bersimpati, di pihak lain, adalah merasakan bagi orang lain, misalnya
ikut larut dalam kesedihan orang lain.
Orang yang empatik mampu memahami
motivasi, pengalaman, perasaan, sikap, harapan dan keinginan orang lain. Dengan
empati yang tinggi maka seseorang akan mampu melakukan hubungan antarmanusia
dengan baik. Langkah pertama dalam mencapai empati adalah menahan godaan untuk
mengevaluasi, menilai, menafsirkan dan mengkritik. Kedua, semakin banyak
seseorang mengenal orang lain (keinginan, pengalaman, kemampuan, ketakutan dan
sebagainya) maka akan semakin mampu ia melihat apa yang dilihat dan merasakan
seperti apa yang dirasakan orang lain. Ketiga, cobalah merasakan apa yang
sedang dirasakan orang lain dari sudut pandangnya. Mendalami peran orang lain
tersebut dalam pikiran, dapat membantu melihat dunia lebih dekat dengan apa
yang dilihat orang tersebut.
Empati dapat dilakukan baik secara verbal
mapun nonverbal. Secara nonverbal, kita dapat mengomunikasikan empati dengan
memperlihatkan keterlibatan aktif orang lain melalui ekspresi wajah dan
gerak-gerik yang sesuai; konsentrasi terpusat melalui kontak mata, postur tubuh
yang penuh perhatian, dan kedekatan fisik; serta sentuhan atau belaian yang
sepantasnya. Sedangkan secara verbal, empati dapat dilakukan dengan merefleksi,
membuat pertanyaan tentatif, mempertanyakan pesan yang berbaur dan melakukan
pengungkapan diri.
3.
Sikap mendukung
Hubungan antarmanusia yang efektif adalah hubungan dimana
terdapat sikap mendukung (supportiveness).
Hubungan yang terbuka dan empati tidak dapat terbina dalam suasana yang tidak
mendukung. Sikap mendukung dapat dilakukan dengan deskriptif bukan evaluatif,
spontanitas bukan strategis dan provisional bukan sangat yakin.
Deskriptif bukan evaluatif membantu terciptanya sikap
mendukung hubungan antarmanusia. Sikap deskriptif dapat dilakukan dengan
menjelaskan apa yang terjadi, perasaan dan bagaimana suatu hal terkait dengan
pihak lain.
Spontanitas membantu menciptakan suasana mendukung. Orang
yang spontan dalam berkomunikasi dan berterus terang serta tebuka dalam
mengutarakan pikirannya biasanya bereaksi dengan cara yang sama pula (terus
terang dan terbuka). Sebaliknya, apabila seseorang menyembunyikan perasaan yang
sebenarnya dan mempunyai rencana tersembunyi, maka pihak lain akan bereaksi
defensif.
Provisional artinya bersikap tentatif dan berpikiran
terbuka serta bersedia mendengar pandangan yang berlawanan dan bersedia
mengubah posisi jika keadaan mengharuskan. Provisional artinya terbuka, dengan
kesadaran penuh, serta bersedia mengubah sikap dan pendapat.
4.
Sikap positif
Sikap positif dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
menyatakan sikap positif dan secara positif mendukung orang untuk melakukan
hubungan antarmanusia. Sikap positif mengacu pada dua aspek dari komunikasi
interpersonal. Pertama, komunikasi interpersonal terbina jika seseorang
memiliki sikap positif terhadap dirinya sendiri. Kedua, perasaan positif sangat
penting untuk melakukan hubungan antarmanusia secara efektif.
Dorongan (stroking)
atau dukungan berkaitan dengan sikap positif. Perilaku mendukung akan menunjukkan
penghargaan, keberadaan dan pentingnya peran seseorang dalam melakukan hubungan
dengan orang lain. Dukungan positif biasanya dilakukan dengan memberi pujian
atau penghargaan serta akan mendukung citra pribadi seseorang dan jauh dari
rasa kebencian.
5.
Kesetaraan
Hubungan antarmanusia akan lebih efektif apabila berada dalam
suasana setara, artinya harus ada peengakuan secara diam-diam bahwa kedua pihak
sama-sama bernilai dan berharga, dan bahwa masing-masing pihak mempunyai
sesuatu yang penting untuk disumbangkan. Dalam hubungan antarmanusia,
kesetaraan akan menghindarkan diri dari ketidak-sependapatan dan konflik.
Konflik dianggap sebagai suatu upaya untuk memahami perbedaan. Kesetaraan tidak
berarti harus menerima dan menyetujui semua perilaku verbal dan nonverbal orang
lain. Kesetaraan berarti menerima pihak lain dan memberikan penghargaan positif
secara tidak bersyarat kepada orang lain.
D.
Manajemen
Hubungan Antarmanusia
Hubungan antarmanusia akan efektif apabila pihak yang
melakukan komunikasi dapat mengendalikan interaksi untuk kepuasan kedua pihak
secara efektif. Manajemen hubungan antarmanusia yang efektif lebih mengutamakan
orang lain agar merasa menjadi tokoh penting. Masing-masing pihak berkontribusi
pada saat melakukan hubungan. Penggunaan bertanya dan mendengar efektif
merupakan manajemen hubungan yang efektif.
Manajemen hubungan yang efektif menyampaikan kesesuaian
dan saling memperkuat antara pesan verbal dan nonverbal. Manajemen hubungan
antarmanusia dapat dilakukan melalui pemantauan diri (self-monitoring), daya ekspresi (expressiveness) dan orientasi kepada orang lain (oriented to other).
1.
Pemantauan diri
Berhubungan secara integral dengan manajemen hubungan
antarmanusia. Pemantauan diri adalah manipulasi citra yang ditampilkan kepada
pihak lain (Synder, 1986). Pemantau diri yang cermat selalu menyesuaikan
perilaku menurut umpan balik dari orang lain untuk perbaikan diri pribadi ke
arah yang lebih baik. Efektivitas pemantauan diri akan mempunyai nilai lebih
apabila pihak tersebut melakukan pengungkapan diri, membuka diri, dan memantau
diri secara selektif.
2.
Daya ekspresi
Mengacu pada ketulusan dalam melakukan hubungan antarmanusia.
Penekanan daya ekspresi lebih kepada keterbukaan, keterlibatan, umpan balik
serta tanggung jawab atas pikiran dan perasaan. Tanggung jawab dalam berbicara
dan mendengarkan. Daya ekspresi diwujudkan dalam kecepatan, nada, volume, dan
ritme suara untuk mengisyaratkan keterlibatan dan perhatian dengan membiarkan
otot-otot wajah mencerminkan keterlibatan. Gerakan-gerakan tubuh dengan gaya
dan frekuensi yang sesuai untuk mengomunikasikan keterlibatan.
3.
Orientasi kepada orang lain
Mengacu kepada kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri
dengan orang lain. Orientasi ini mencakup proses komunikasi, perhatian dan
minat terhadap apa yang dikatakan lawan bicara. Pihak yang melakukan komunikasi
dengan berorientasi kepada orang lain akan melihat situasi dan interaksi dari
sudut pandang lawan bicara dengan menghargai perbedaan pandangannya dengan
empati. Orientasi kepada orang lain akan memberikan umpan balik yang cepat dan
pantas serta menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang perasaan dan pikiran.
E.
Konsep
Diri
Menurut Stuart dan Laraia (2001), konsep diri adalah semua
nilai, ide, perasaan, pikiran dan keyakinan yang kuat tentang diri sendiri yang
memengaruhi hubungan dengan orang lain. Sedangkan, Keliat (1992) mengemukakan
bahwa konsep diri adalah persepsi individu tentang karakteristik dan
kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungannya, serta nilai yang
berkaitan dengan pengalaman/objek/tujuan/ ide. Faktor-faktor yang memengaruhi
konsep diri adalah sebagai berikut.
1.
Tahap perkembangan
Konsep diri berkembang sejak lahir secara bertahap, yaitu
dimulai dengan mengenal dan membedakan orang lain, membedakan diri dengan orang
lain, kemudian melakukan aktivitas eksplorasi pengalaman dengan diri sendiri
dan berkaitan dengan perkembangan bahasa. Pada tahap perkembangan manusia,
konsep diri merupakan suatu proses yang terus-menerus berlangsung didasarkan
pada pengalaman interaksi dan budaya, perasaan positif dan berharga, persepsi
akan kompetensi yang dimiliki, penilaian diri sendiri dan orang lain, serta
aktualisasi diri.
2.
Orang penting lain
Orang penting lain dalam kehidupan manusia sangat memengaruhi
konsep diri seseorang. Belajar tentang diri sendiri melalui cermin orang lain
memengaruhi konsep diri. Pada anak kecil dan keluarga, hal-hal yang akan
berdampak kepada perkembangan konsep diri anak adalah perasaan adekuat atau
tidak, perasaan diterima atau ditolak, kesempatan identifikasi, dan harapan
diterima orang lain. Sedangkan pada remaja (pertemanan) dan orang dewasa lain,
budaya dan sosialisasi membawa dampak besar terhadap perkembangan konsep diri.
3.
Persepsi
Faktor persepsi individu membawa dampak pada perkembangan
konsep diri. Persepsi individual berarti baginya konsisten dengan kebutuhan dan
nilai personal. Apabila persepsi akan diri individu lemah atau negatif maka
individu akan cenderung distorsi, mempunyai pandangan yang sempit, dan tidak
memiliki rasa percaya diri. Persepsi individu yang negatif akan membawa
individu pada keadaan yang selalu terancam dan kecemasan. Sebaliknya, persepsi
individu yang positif akan membawa individu pada pribadi yang terbuka dan jujur
sehingga individu akan selalu menerima keadaan dan kesuksesan akan
menyertainya.
Komponen Konsep Diri
Komponen konsep diri terdiri atas citra diri, ideal diri,
harga diri, identitas diri, dan peran yang akan dijelaskan sebagai berikut.
1.
Citra diri
Merupakan persepsi atau perasaan masa lalu dan saat ini
tentang ukuran, penampilan, fungsi dan potensi tubuh. Menurut Keliat (1992),
citra diri adalah sikap, persepsi, keyakinan, pengetahuan individu secara sadar
atau tidak terhadap tubuhnya.
Perkembangan citra diri belum ada saat lahir. Citra diri
merupakan bagian yang erat dengan tubuh (pakaian, mainan dan peralatan tubuh)
dan penampilan. Apabila konsep diri positif maka individu akan menerima atau
menyukai tubuhnya, sehingga harga diri tinggi dan individu terbebas dari
kecemasan (anxiety).
Gangguan citra
diri. Merupakan perubahan persepsi tentang tubuh akibat perubahan ukuran,
bentuk, struktur, fungsi, keterbatasan, makna atau objek yang sering kontak
dengan tubuh. Stresor gangguan citra tubuh biasanya berkaitan dengan operasi
(mastektomi), kegagalan fungsi tubuh (lumpuh), gangguan jiwa (waham),
ketergantungan (infus, kateter), tumbuh kembang, umpan balik negatif dan
standar budaya. Tanda dan gejala gangguan citra diri adalah sebagai berikut.
-
Menolak untuk melihat dan menyentuh bagian tubuh
yang berubah
-
Tidak menerima perubahan tubuh yang terjadi atau
akan terjadi
-
Menolak penjelasan mengenai perubahan tubuh.
-
Persepsi negatif terhadap tubuh.
-
Preokupasi dengan bagian tubuh yang hilang.
-
Mengungkapkan keputusasaan.
-
Mengungkapkan ketakutan.
2.
Ideal diri
Merupakan persepsi individu tentang bagaimana ia harus
berperilaku berdasarkan beberapa standar personal. Ideal diri dapat berupa
gambaran individu yang disukai, aspirasi, tujuan atau nilai yang ingin dicapai.
Perkembangan ideal diri dipengaruhi oleh orang penting atau orang terdekat
sejak masa kanak-kanak, yaitu berupa harapan, tuntutan, dan identifikasi
terhadap individu; dan norma, latar belakang sosial budaya, keluarga, kemampuan
individu terkait dengan usaha individu untuk memenuhinya.
Sedangkan perkembangan ideal diri dipengaruhi oleh faktor
ambisi dan keinginan untuk sukses, kebutuhan yang realistis, kebahagiaan dalam
mengatasi kegagalan, perasaan ansietas dan rendah diri. Individu yang selalu
mengungkapkan keputus-asaan dan selalu mencapai keinginan yang terlalu tinggi,
menandakan bahwa individu tersebut sedang mengalami gangguan ideal diri. Ideal
diri harus lebih tinggi dari prestasi saat ini, jelas dan realistis. Sebaiknya,
ideal diri jangan sulit untuk dicapai, tidak jelas (samar) dan jangan menuntut.
Ideal diri yang sehat adalah sesuai dengan persepsi diri.
3.
Harga diri
Merupakan penilaian individu tentan
pencapaian diri dengan menganalisis sejauh mana perilaku mencapai ideal diri.
Harga diri berkaitan dengan cita-cita, apabila cita-cita dapat tercapai, maka
individu akan sukses dan harga dirinya tinggi. Sebaliknya, apabila cita-cita
gagal dicapai, maka harga diri cenderung menurun atau rendah.
Perkembangan harga diri dipengaruhi oleh
diri sendiri (misalnya menghargai diri sendiri, tidak mengecilkan diri, dan ada
kepuasan terhadap diri) dan orang lain (dicintai, diperhatikan, dan dihargai
orang lain). Harga diri sangat rentan pada masa remaja, sebaliknya harga diri
meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Perasaan negatif terhadap diri
sendiri dan hilangnya rasa percaya diri merupakan tanda dari gangguan harga
diri.
Individu dengan harga diri rendah menunjukkan
gejala-gejala seperti perasaan malu, perasaan bersalah pada diri sendiri,
merendahkan martabat, menarik diri, percaya diri kurang dan mencederai diri.
Rendahnya harga diri seseorang dikarenakan adanya stresor berupa penolakan
orang tua, kurangnya penghargaan dari orang tua atau orang terdekat, pola asuh
yang tidak sehat (selalu dilarang, selalu dituruti, dikontrol, dituntut, tidak
konsisten), persaingan antar saudara, kegagalan berulang dan tidak tercapainya
ideal diri.
Meningkatkan harga diri dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut.
a.
Memberi kesempatan sukses pada diri disertai
dengan penghargaan saat sukses.
b.
Menanamkan ideal diri serta harapan yang
realistis dan tidak terlalu tinggi sesuai dengan latar belakang sosial budaya
yang berlaku.
c.
Mendukung diri sendiri untuk beraspirasi dan
bercita-cita.
d.
Membantu membentuk pertahanan untuk hal-hal yang
mengganggu.
Penyebab harga diri rendah adalah perkembangan individu
yang terganggu, ideal diri yang tidak realistis, gangguan fisik atau mental
baik dari individu maupun keluarga, sistem keluarga yang tidak berfungsi dan
pengalaman traumatis yang berulang.
4.
Identitas diri
Merupakan kesadaran akan keunikan diri sendiri yang
bersumber dari penilaian dan observasi diri sendiri. Secara mendasar, identitas
diri adalah sintesis dari semua aspek yang mewakili diri yang diorganisasi
menjadi satu keutuhan.
Perkembangan identitas diri sudah ada sejak lahir yang
dimulai dengan adanya proses identifikasi dan introspeksi. Proses identifikasi
seperti hubungan ibu dengan bayi, hubungan anak dengan orang tua/guru/teman,
tokoh terkait dengan aspek seksual, dan gambaran diri. Proses introspeksi
seperti evaluasi diri, penghargaan diri dan berpikir kritis.
Individu dengan identitas diri yang kuatakan selalu
memandang diri secara unik, merasa diri berbeda dengan orang lain, merasa
otonomi (mampu berdiri sendiri juga menghargai, percaya, menerima, dan dapat
mengontrol dirinya sendiri), mempunyai persepsi positif tentang citra tubuh,
peran dan konsep diri. Sebaliknya, individu yang selalu merasa ragu, tidak
konsisten dalam menilai diri, sukar memutuskan atau menetapkan tujuan
(keinginan) adalah individu yang mengalami gangguan identitas diri.
Gangguan identitas diri ditandai dengan geala seperti
sukar menilai diri sendiri; sukar mengambil keputusan/tergantung orang lain;
sukar menetapkan keinginan baik dalam hal agama, karier, maupun teman hidup; hubungan
interpersonal tidak stabil; respons tidak konsisten; dan selalu menyalahkan
orang lain atau lingkungan (projeksi).
5.
Peran
Merupakan seperangkat perilaku yang diharapkan secara
sosial yang berhubungan dengan fungsi individu pada berbagai kelompok sosial.
Perkembangan peran dipengaruhi oleh model peran dan kesempatan berperan.
Penyesuaian peran dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti ketidakjelasan
perilaku, konsistensi respons orang terdekat terhadap peran, kecocokan atau
keseimbangan berbagai peran, serta keselarasan budaya dan harapan terhadap
peran tersebut.
Berubah atau berhentinya fungsi peran yang disebabkan oleh
penyakit, proses menua, putus sekolah, putus hubungan kerja, perceraian dan
lainnya merupakan gangguan penampilan peran yang ditandai dengan gejala seperti
mengingkari ketidakmampuan menjalankan peran, kurang bertanggung jawab terhadap
peran, apatis, bosan, jenuh, putus asa, serta berganti-ganti peran.
Gangguan konsep diri dapat dihindari dengan cara
memperluas kesadaran diri (expended
self-awareness), mengeksplorasi diri (self-exploration),
mengevaluasi diri (self-evaluation), menyusun rencana yang realistis (realistic plan of action), dan
melaksanakan tindakan sesuai rencana (commitment
to action).
F.
Model
Johari Window
Banyak pendapat mengatakan bahwa bidan perlu menjawab
pertanyaan “siapa saya”. Bidan harus dapat mengkaji perasaan, reaksi dan
perilakunya secara pribadi maupun sebagai pemberi pelayanan. Kesadaran diri akan
membuat bidan menerima perbedaan dan keunikan klien. Kesadaran diri dan
perkembangan diri bidan perlu ditingkatkan agar penggunaan diri secara
terapeutik dapat lebih efektif. Model Jendela Johari (Johari Window)
menggambarkan tentang perilaku, pikiran dan perasaan seseorang melalui gambar
berikut.
|
JOHARI
WINDOW
|
|
|
Diri Terbuka
(diketahui diri sendiri dan orang
lain)
|
Diri Buta
(tidak diketahui diri sendiri, tapi diketahui orang
lain)
|
|
Diri Tersembunyi / Rahasia
(diketahui diri sendiri, tapi tidak
diketahui orang lain)
|
Diri Gelap
(tidak diketahui diri sendiri maupun orang lain
|
Gambar 3-4. Johari Window (sumber : G.W. Stuart dan S.J.
Sundeen, 1987)
Kuadran I (diri terbuka-open) adalah kuadran yang terdiri
atas perilaku, pikiran, dan perasaan yang diketahui oleh individu dan orang
lain disekitarnya. Kuadran 2 (diri buta – blind) disebut kuadran buta karena
hanya diketahui oleh orang lain. Kuadran 3 (diri tersembunyi atau rahasia –
hidden) disebut rahasia karena hanya diketahui oleh individu tersebut. Kuadran
4 (diri gelap – unknown) disebut kuadran yang tidak diketahui atau gelap karena
berisi aspek – aspek diri yang tidak diketahui oleh individu tersebut dan orang
lain. Tiga prinsip yang dapat diambil dari Johari Window adalah sebagai
berikut.
1.
Perubahan satu kuadran akan memengaruhi kuadran
yang lain.
2.
Jika kuadran 1 adalah yang paling kecil, berarti
komunikasinya buruk atau kesadaran dirinya berkurang.
3.
Kuadran 1 paling besar pada individu yang
mempunyai kesadaran diri tinggi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar