Kamis, 18 Juni 2015

Hubungan Antar Manusia

HUBUNGAN ANTAR MANUSIA


A.       Pengertian Hubungan Antarmanusia
Hakikat dari hubungan antarmanusia adalah komunikasi antarpribadi. Hubungan antarmanusia sebenarnya dilandaskan pada adanya kepentingan-kepentingan individual. Hubungan antarmanusia diartikan sebagai suatu proses interaksi antar-individu untuk mempertahankan keseimbangan agar tercipta suatu keserasian, keselarasan dan kebahagiaan dalam tatanan kehidupan manusia.
Kualitas hubungan antarmanusia ditentukan oleh model individu dalam menerapkannya. Teori (model) dan kualitas hubungan antarmanusia digolongkan menjadi tiga, yaitu transaksional (pertukaran sosial), peran dan permainan yang akan dijelaskan sebagai berikut.
1.         Teori transaksional
Teori transaksional merupakan suatu proses dimana komponen-komponennya saling terkait dan masing-masing personalnya bereaksi sebagai suatu kesatuan atau keseluruhan. Kaidah dari teori transaksional selalu dikaitkan dengan hubungan antarmanusia yang harus didasarkan pada pertimbangan untung dan rugi.
2.         Teori peran
Teori ini lebih menekankan pada suatu pergaulan sosial dengan skenario yang sudah disusun di masyarakat. Setiap hubungan antarmanusia diatur oleh tatanan kehidupan yang ada dimasyarakat dan masyarakat tersebut mengatur bagaimana setiap manusia harus berperan dalam pergaulan sehari-hari. Teori peran mempertimbangkan keselarasan (harmonisasi) dalam kehidupan sehari-hari. Apabila manusia sebagai individu dapat memenuhi tatanan tersebut, maka kehidupannya akan menuju pada suatu keadaan yang harmonis. Sebaliknya, apabila menyalahi atau tidak sesuai, maka akan dicemooh.
3.         Teori permainan
Teori permainan memperhatikan fase manusia sepanjang siklus kehidupannya, dimulai sejak masa kanak-kanak, dewasa, sampai tua. Pada masa kanak-kanak, hubungan cenderung manja. Pada masa dewasa, pergaulan atau hubungan antarmanusia menjadi suatu kesadaran, tanggung jawab dan lugas. Di masa ini, manusia akan menyadari akibat dan risiko dari suatu hubungan. Sedangkan pada masa tua, manusia akan memaklumi kesalahan orang lain dan hubungan diartikan sebagai suatu perasaan saling menyayangi.

B.       Tujuan Hubungan Antarmanusia
Hubungan antarmanusia bukanlah merupakan suatu hubungan tanpa arah dan tujuan. Hubungan yang baik adalah suatu proses yang mempunyai arah dan tujuan. Tujuan dari hubungan antarmanusia diantaranya adalah mengurangi kesepian, mendapatkan rangsangan, mendapatkan pemahaman diri (self-knowledge), serta memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan penderitaan.
Hubungan antarmanusia mempunyai lima tahap, yaitu kontak, keterlibatan, keakraban, perusakan dan pemutusan.
Oval: Kontak
 
1.         Kontak.
Tahap pertama pada hubungan antarmanusia adalah membuat kontak. Beberapa macam persepsi alat indra adalah melihat, mendengar dan membau. Selama tahap ini dalam empat menit pertama interaksi awal, individu tersebut harus memutuskan apakah ingin melanjutkan hubungan atau tidak. Pada tahap inilah penampilan fisik begitu penting, karena dimensi fisik paling terbuka untuk diamati secara mudah. Namun, kualitas-kualitas lain seperti sikap bersahabat, kehangatan, keterbukaan dan kedinamisan juga terungkap pada tahap ini. Jika menyukai hubungan pada tahap ini, maka individu tersebut dapat melanjutkan ke tahap kedua.

2.         Keterlibatan.
Tahap keterlibatan adalah tahap pengenalan lebih jauh, ketika mengikatkan diri untuk lebih mengenal individu lain dan juga mengungkapkan diri. Jika ini merupakan hubungan persahabatan, maka kedua pihak mungkin melakukan sesuatu yang merupakan minat bersama.

3.         Keakraban
Pada tahap keakraban, ada rasa saling keterikatan atau ketergantungan. Kemungkinan pada tahap ini terbina hubungan primer (primary relationship), dimana rasa persahabatan dan saling percaya akan timbul.

4.         Perusakan.
Dua tahap berikutnya merupakan penurunan hubungan ketika ikatan di antara kedua pihak melemah. Pada tahap perusakan mulai ada rasa bahwa hubungan yang telah terjalin tidaklah sepenting sebelumnya, semakin sedikit waktu senggang, kedua pihak saling berdiam diri, dan tidak lagi banyak mengungkapkan diri. Jika tahap ini berlanjut, berarti memasuki tahap pemutusan.

5.         Pemutusan.
Terjadi pemutusan ikatan yang mempertalikan kedua pihak. Jika bentuk ikatan tersebut adalah perkawinan, maka pemutusan hubungan dilambangkan dengan perceraian, walaupun pemutusan hubungan aktual dapat berupa hidup berpisah. Ada kalanya terjadi peredaan; kadang-kadang ketegangan dan keresahan semakin meningkat, permusuhan dan marah-marah terus terjadi.

C.      Teknik – teknik hubungan Antarmanusia
Dalam membina hubungan antarmanusia ada lima kualitas atau ancaman umum yang harus dipertimbangkan, yaitu keterbukaan (openness), empati (empathy), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif (positiveness) dan kesetaraan (equality).

1.         Keterbukaan
Keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi antarpribadi yang efektif harus terbuka kepada orang yang diajak berinteraksi. Hal ini bukan berarti bahwa seseorang harus dengan segera membukakan semua riwayat hidupnya kepada orang lain. Sebaliknya, harus ada kesediaan membuka diri atau mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan. Aspek keterbukaan yang kedua mengacu pada kesediaan seseorang untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang. Orang yang diam, tidak kritis dan tidak tanggap pada umumnya akan menjemukan apabila melakukan hubungan dengan yang lain. Aspek ketiga menyangkut kepemilikan perasaan dan pikiran (Bochner dan Kelly, 1974). Terbuka dalam pengertian ini adalah mengakui bahwa perasaan dan pikiran merupakan milik individu dan harus dipertanggungjawabkan.

2.         Empati
Menurut Backrac (1976), empati adalah kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain itu, melalui kacamata orang lain itu. Jadi dapat dikatakan, berempati adalah merasakan sesuatu seperti orang yang mengalaminya, berada di kondisi yang sama, merasakan perasaan yang sama, dengan cara yang sama. Bersimpati, di pihak lain, adalah merasakan bagi orang lain, misalnya ikut larut dalam kesedihan orang lain.
Orang yang empatik mampu memahami motivasi, pengalaman, perasaan, sikap, harapan dan keinginan orang lain. Dengan empati yang tinggi maka seseorang akan mampu melakukan hubungan antarmanusia dengan baik. Langkah pertama dalam mencapai empati adalah menahan godaan untuk mengevaluasi, menilai, menafsirkan dan mengkritik. Kedua, semakin banyak seseorang mengenal orang lain (keinginan, pengalaman, kemampuan, ketakutan dan sebagainya) maka akan semakin mampu ia melihat apa yang dilihat dan merasakan seperti apa yang dirasakan orang lain. Ketiga, cobalah merasakan apa yang sedang dirasakan orang lain dari sudut pandangnya. Mendalami peran orang lain tersebut dalam pikiran, dapat membantu melihat dunia lebih dekat dengan apa yang dilihat orang tersebut.
Empati dapat dilakukan baik secara verbal mapun nonverbal. Secara nonverbal, kita dapat mengomunikasikan empati dengan memperlihatkan keterlibatan aktif orang lain melalui ekspresi wajah dan gerak-gerik yang sesuai; konsentrasi terpusat melalui kontak mata, postur tubuh yang penuh perhatian, dan kedekatan fisik; serta sentuhan atau belaian yang sepantasnya. Sedangkan secara verbal, empati dapat dilakukan dengan merefleksi, membuat pertanyaan tentatif, mempertanyakan pesan yang berbaur dan melakukan pengungkapan diri.

3.         Sikap mendukung
Hubungan antarmanusia yang efektif adalah hubungan dimana terdapat sikap mendukung (supportiveness). Hubungan yang terbuka dan empati tidak dapat terbina dalam suasana yang tidak mendukung. Sikap mendukung dapat dilakukan dengan deskriptif bukan evaluatif, spontanitas bukan strategis dan provisional bukan sangat yakin.
Deskriptif bukan evaluatif membantu terciptanya sikap mendukung hubungan antarmanusia. Sikap deskriptif dapat dilakukan dengan menjelaskan apa yang terjadi, perasaan dan bagaimana suatu hal terkait dengan pihak lain.
Spontanitas membantu menciptakan suasana mendukung. Orang yang spontan dalam berkomunikasi dan berterus terang serta tebuka dalam mengutarakan pikirannya biasanya bereaksi dengan cara yang sama pula (terus terang dan terbuka). Sebaliknya, apabila seseorang menyembunyikan perasaan yang sebenarnya dan mempunyai rencana tersembunyi, maka pihak lain akan bereaksi defensif.
Provisional artinya bersikap tentatif dan berpikiran terbuka serta bersedia mendengar pandangan yang berlawanan dan bersedia mengubah posisi jika keadaan mengharuskan. Provisional artinya terbuka, dengan kesadaran penuh, serta bersedia mengubah sikap dan pendapat.

4.         Sikap positif
Sikap positif dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu menyatakan sikap positif dan secara positif mendukung orang untuk melakukan hubungan antarmanusia. Sikap positif mengacu pada dua aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama, komunikasi interpersonal terbina jika seseorang memiliki sikap positif terhadap dirinya sendiri. Kedua, perasaan positif sangat penting untuk melakukan hubungan antarmanusia secara efektif.
Dorongan (stroking) atau dukungan berkaitan dengan sikap positif. Perilaku mendukung akan menunjukkan penghargaan, keberadaan dan pentingnya peran seseorang dalam melakukan hubungan dengan orang lain. Dukungan positif biasanya dilakukan dengan memberi pujian atau penghargaan serta akan mendukung citra pribadi seseorang dan jauh dari rasa kebencian.

5.         Kesetaraan
Hubungan antarmanusia akan lebih efektif apabila berada dalam suasana setara, artinya harus ada peengakuan secara diam-diam bahwa kedua pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan bahwa masing-masing pihak mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. Dalam hubungan antarmanusia, kesetaraan akan menghindarkan diri dari ketidak-sependapatan dan konflik. Konflik dianggap sebagai suatu upaya untuk memahami perbedaan. Kesetaraan tidak berarti harus menerima dan menyetujui semua perilaku verbal dan nonverbal orang lain. Kesetaraan berarti menerima pihak lain dan memberikan penghargaan positif secara tidak bersyarat kepada orang lain.

D.       Manajemen Hubungan Antarmanusia
Hubungan antarmanusia akan efektif apabila pihak yang melakukan komunikasi dapat mengendalikan interaksi untuk kepuasan kedua pihak secara efektif. Manajemen hubungan antarmanusia yang efektif lebih mengutamakan orang lain agar merasa menjadi tokoh penting. Masing-masing pihak berkontribusi pada saat melakukan hubungan. Penggunaan bertanya dan mendengar efektif merupakan manajemen hubungan yang efektif.
Manajemen hubungan yang efektif menyampaikan kesesuaian dan saling memperkuat antara pesan verbal dan nonverbal. Manajemen hubungan antarmanusia dapat dilakukan melalui pemantauan diri (self-monitoring), daya ekspresi (expressiveness) dan orientasi kepada orang lain (oriented to other).

1.         Pemantauan diri
Berhubungan secara integral dengan manajemen hubungan antarmanusia. Pemantauan diri adalah manipulasi citra yang ditampilkan kepada pihak lain (Synder, 1986). Pemantau diri yang cermat selalu menyesuaikan perilaku menurut umpan balik dari orang lain untuk perbaikan diri pribadi ke arah yang lebih baik. Efektivitas pemantauan diri akan mempunyai nilai lebih apabila pihak tersebut melakukan pengungkapan diri, membuka diri, dan memantau diri secara selektif.

2.         Daya ekspresi
Mengacu pada ketulusan dalam melakukan hubungan antarmanusia. Penekanan daya ekspresi lebih kepada keterbukaan, keterlibatan, umpan balik serta tanggung jawab atas pikiran dan perasaan. Tanggung jawab dalam berbicara dan mendengarkan. Daya ekspresi diwujudkan dalam kecepatan, nada, volume, dan ritme suara untuk mengisyaratkan keterlibatan dan perhatian dengan membiarkan otot-otot wajah mencerminkan keterlibatan. Gerakan-gerakan tubuh dengan gaya dan frekuensi yang sesuai untuk mengomunikasikan keterlibatan.

3.         Orientasi kepada orang lain
Mengacu kepada kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan orang lain. Orientasi ini mencakup proses komunikasi, perhatian dan minat terhadap apa yang dikatakan lawan bicara. Pihak yang melakukan komunikasi dengan berorientasi kepada orang lain akan melihat situasi dan interaksi dari sudut pandang lawan bicara dengan menghargai perbedaan pandangannya dengan empati. Orientasi kepada orang lain akan memberikan umpan balik yang cepat dan pantas serta menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang perasaan dan pikiran.

E.       Konsep Diri
Menurut Stuart dan Laraia (2001), konsep diri adalah semua nilai, ide, perasaan, pikiran dan keyakinan yang kuat tentang diri sendiri yang memengaruhi hubungan dengan orang lain. Sedangkan, Keliat (1992) mengemukakan bahwa konsep diri adalah persepsi individu tentang karakteristik dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungannya, serta nilai yang berkaitan dengan pengalaman/objek/tujuan/ ide. Faktor-faktor yang memengaruhi konsep diri adalah sebagai berikut.

1.         Tahap perkembangan
Konsep diri berkembang sejak lahir secara bertahap, yaitu dimulai dengan mengenal dan membedakan orang lain, membedakan diri dengan orang lain, kemudian melakukan aktivitas eksplorasi pengalaman dengan diri sendiri dan berkaitan dengan perkembangan bahasa. Pada tahap perkembangan manusia, konsep diri merupakan suatu proses yang terus-menerus berlangsung didasarkan pada pengalaman interaksi dan budaya, perasaan positif dan berharga, persepsi akan kompetensi yang dimiliki, penilaian diri sendiri dan orang lain, serta aktualisasi diri.

2.         Orang penting lain
Orang penting lain dalam kehidupan manusia sangat memengaruhi konsep diri seseorang. Belajar tentang diri sendiri melalui cermin orang lain memengaruhi konsep diri. Pada anak kecil dan keluarga, hal-hal yang akan berdampak kepada perkembangan konsep diri anak adalah perasaan adekuat atau tidak, perasaan diterima atau ditolak, kesempatan identifikasi, dan harapan diterima orang lain. Sedangkan pada remaja (pertemanan) dan orang dewasa lain, budaya dan sosialisasi membawa dampak besar terhadap perkembangan konsep diri.

3.         Persepsi
Faktor persepsi individu membawa dampak pada perkembangan konsep diri. Persepsi individual berarti baginya konsisten dengan kebutuhan dan nilai personal. Apabila persepsi akan diri individu lemah atau negatif maka individu akan cenderung distorsi, mempunyai pandangan yang sempit, dan tidak memiliki rasa percaya diri. Persepsi individu yang negatif akan membawa individu pada keadaan yang selalu terancam dan kecemasan. Sebaliknya, persepsi individu yang positif akan membawa individu pada pribadi yang terbuka dan jujur sehingga individu akan selalu menerima keadaan dan kesuksesan akan menyertainya.

Komponen Konsep Diri
Komponen konsep diri terdiri atas citra diri, ideal diri, harga diri, identitas diri, dan peran yang akan dijelaskan sebagai berikut.

1.         Citra diri
Merupakan persepsi atau perasaan masa lalu dan saat ini tentang ukuran, penampilan, fungsi dan potensi tubuh. Menurut Keliat (1992), citra diri adalah sikap, persepsi, keyakinan, pengetahuan individu secara sadar atau tidak terhadap tubuhnya.
Perkembangan citra diri belum ada saat lahir. Citra diri merupakan bagian yang erat dengan tubuh (pakaian, mainan dan peralatan tubuh) dan penampilan. Apabila konsep diri positif maka individu akan menerima atau menyukai tubuhnya, sehingga harga diri tinggi dan individu terbebas dari kecemasan (anxiety).
Gangguan citra diri. Merupakan perubahan persepsi tentang tubuh akibat perubahan ukuran, bentuk, struktur, fungsi, keterbatasan, makna atau objek yang sering kontak dengan tubuh. Stresor gangguan citra tubuh biasanya berkaitan dengan operasi (mastektomi), kegagalan fungsi tubuh (lumpuh), gangguan jiwa (waham), ketergantungan (infus, kateter), tumbuh kembang, umpan balik negatif dan standar budaya. Tanda dan gejala gangguan citra diri adalah sebagai berikut.
-            Menolak untuk melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah
-            Tidak menerima perubahan tubuh yang terjadi atau akan terjadi
-            Menolak penjelasan mengenai perubahan tubuh.
-            Persepsi negatif terhadap tubuh.
-            Preokupasi dengan bagian tubuh yang hilang.
-            Mengungkapkan keputusasaan.
-            Mengungkapkan ketakutan.

2.         Ideal diri
Merupakan persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku berdasarkan beberapa standar personal. Ideal diri dapat berupa gambaran individu yang disukai, aspirasi, tujuan atau nilai yang ingin dicapai. Perkembangan ideal diri dipengaruhi oleh orang penting atau orang terdekat sejak masa kanak-kanak, yaitu berupa harapan, tuntutan, dan identifikasi terhadap individu; dan norma, latar belakang sosial budaya, keluarga, kemampuan individu terkait dengan usaha individu untuk memenuhinya.
Sedangkan perkembangan ideal diri dipengaruhi oleh faktor ambisi dan keinginan untuk sukses, kebutuhan yang realistis, kebahagiaan dalam mengatasi kegagalan, perasaan ansietas dan rendah diri. Individu yang selalu mengungkapkan keputus-asaan dan selalu mencapai keinginan yang terlalu tinggi, menandakan bahwa individu tersebut sedang mengalami gangguan ideal diri. Ideal diri harus lebih tinggi dari prestasi saat ini, jelas dan realistis. Sebaiknya, ideal diri jangan sulit untuk dicapai, tidak jelas (samar) dan jangan menuntut. Ideal diri yang sehat adalah sesuai dengan persepsi diri.

3.         Harga diri
Merupakan penilaian individu tentan pencapaian diri dengan menganalisis sejauh mana perilaku mencapai ideal diri. Harga diri berkaitan dengan cita-cita, apabila cita-cita dapat tercapai, maka individu akan sukses dan harga dirinya tinggi. Sebaliknya, apabila cita-cita gagal dicapai, maka harga diri cenderung menurun atau rendah.
Perkembangan harga diri dipengaruhi oleh diri sendiri (misalnya menghargai diri sendiri, tidak mengecilkan diri, dan ada kepuasan terhadap diri) dan orang lain (dicintai, diperhatikan, dan dihargai orang lain). Harga diri sangat rentan pada masa remaja, sebaliknya harga diri meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Perasaan negatif terhadap diri sendiri dan hilangnya rasa percaya diri merupakan tanda dari gangguan harga diri.
Individu dengan harga diri rendah menunjukkan gejala-gejala seperti perasaan malu, perasaan bersalah pada diri sendiri, merendahkan martabat, menarik diri, percaya diri kurang dan mencederai diri. Rendahnya harga diri seseorang dikarenakan adanya stresor berupa penolakan orang tua, kurangnya penghargaan dari orang tua atau orang terdekat, pola asuh yang tidak sehat (selalu dilarang, selalu dituruti, dikontrol, dituntut, tidak konsisten), persaingan antar saudara, kegagalan berulang dan tidak tercapainya ideal diri.
Meningkatkan harga diri dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.         Memberi kesempatan sukses pada diri disertai dengan penghargaan saat sukses.
b.        Menanamkan ideal diri serta harapan yang realistis dan tidak terlalu tinggi sesuai dengan latar belakang sosial budaya yang berlaku.
c.         Mendukung diri sendiri untuk beraspirasi dan bercita-cita.
d.        Membantu membentuk pertahanan untuk hal-hal yang mengganggu.

Penyebab harga diri rendah adalah perkembangan individu yang terganggu, ideal diri yang tidak realistis, gangguan fisik atau mental baik dari individu maupun keluarga, sistem keluarga yang tidak berfungsi dan pengalaman traumatis yang berulang.

4.         Identitas diri
Merupakan kesadaran akan keunikan diri sendiri yang bersumber dari penilaian dan observasi diri sendiri. Secara mendasar, identitas diri adalah sintesis dari semua aspek yang mewakili diri yang diorganisasi menjadi satu keutuhan.
Perkembangan identitas diri sudah ada sejak lahir yang dimulai dengan adanya proses identifikasi dan introspeksi. Proses identifikasi seperti hubungan ibu dengan bayi, hubungan anak dengan orang tua/guru/teman, tokoh terkait dengan aspek seksual, dan gambaran diri. Proses introspeksi seperti evaluasi diri, penghargaan diri dan berpikir kritis.
Individu dengan identitas diri yang kuatakan selalu memandang diri secara unik, merasa diri berbeda dengan orang lain, merasa otonomi (mampu berdiri sendiri juga menghargai, percaya, menerima, dan dapat mengontrol dirinya sendiri), mempunyai persepsi positif tentang citra tubuh, peran dan konsep diri. Sebaliknya, individu yang selalu merasa ragu, tidak konsisten dalam menilai diri, sukar memutuskan atau menetapkan tujuan (keinginan) adalah individu yang mengalami gangguan identitas diri.
Gangguan identitas diri ditandai dengan geala seperti sukar menilai diri sendiri; sukar mengambil keputusan/tergantung orang lain; sukar menetapkan keinginan baik dalam hal agama, karier, maupun teman hidup; hubungan interpersonal tidak stabil; respons tidak konsisten; dan selalu menyalahkan orang lain atau lingkungan (projeksi).

5.         Peran
Merupakan seperangkat perilaku yang diharapkan secara sosial yang berhubungan dengan fungsi individu pada berbagai kelompok sosial. Perkembangan peran dipengaruhi oleh model peran dan kesempatan berperan. Penyesuaian peran dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti ketidakjelasan perilaku, konsistensi respons orang terdekat terhadap peran, kecocokan atau keseimbangan berbagai peran, serta keselarasan budaya dan harapan terhadap peran tersebut.
Berubah atau berhentinya fungsi peran yang disebabkan oleh penyakit, proses menua, putus sekolah, putus hubungan kerja, perceraian dan lainnya merupakan gangguan penampilan peran yang ditandai dengan gejala seperti mengingkari ketidakmampuan menjalankan peran, kurang bertanggung jawab terhadap peran, apatis, bosan, jenuh, putus asa, serta berganti-ganti peran.
Gangguan konsep diri dapat dihindari dengan cara memperluas kesadaran diri (expended self-awareness), mengeksplorasi diri (self-exploration), mengevaluasi diri (self-evaluation), menyusun rencana yang realistis (realistic plan of action), dan melaksanakan tindakan sesuai rencana (commitment to action).

F.        Model Johari Window
Banyak pendapat mengatakan bahwa bidan perlu menjawab pertanyaan “siapa saya”. Bidan harus dapat mengkaji perasaan, reaksi dan perilakunya secara pribadi maupun sebagai pemberi pelayanan. Kesadaran diri akan membuat bidan menerima perbedaan dan keunikan klien. Kesadaran diri dan perkembangan diri bidan perlu ditingkatkan agar penggunaan diri secara terapeutik dapat lebih efektif. Model Jendela Johari (Johari Window) menggambarkan tentang perilaku, pikiran dan perasaan seseorang melalui gambar berikut.

JOHARI WINDOW
Diri Terbuka
(diketahui diri sendiri dan orang lain)
Diri Buta
(tidak diketahui diri sendiri, tapi diketahui orang lain)
Diri Tersembunyi / Rahasia
(diketahui diri sendiri, tapi tidak diketahui orang lain)
Diri Gelap
(tidak diketahui diri sendiri maupun orang lain
Gambar 3-4. Johari Window (sumber : G.W. Stuart dan S.J. Sundeen, 1987)

Kuadran I (diri terbuka-open) adalah kuadran yang terdiri atas perilaku, pikiran, dan perasaan yang diketahui oleh individu dan orang lain disekitarnya. Kuadran 2 (diri buta – blind) disebut kuadran buta karena hanya diketahui oleh orang lain. Kuadran 3 (diri tersembunyi atau rahasia – hidden) disebut rahasia karena hanya diketahui oleh individu tersebut. Kuadran 4 (diri gelap – unknown) disebut kuadran yang tidak diketahui atau gelap karena berisi aspek – aspek diri yang tidak diketahui oleh individu tersebut dan orang lain. Tiga prinsip yang dapat diambil dari Johari Window adalah sebagai berikut.
1.         Perubahan satu kuadran akan memengaruhi kuadran yang lain.
2.         Jika kuadran 1 adalah yang paling kecil, berarti komunikasinya buruk atau kesadaran dirinya berkurang.

3.         Kuadran 1 paling besar pada individu yang mempunyai kesadaran diri tinggi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar