MENJADI PENDENGAR YANG BAIK
A. Mendengar aktif
Keterampilan
mendengarkan dalam komunikasi interpersonal dan konseling (KIP/K) terdapat 4
bentuk mendengarkan yang bisa kita gunakan sesuai dengan situasi yang dihadapi,
yaitu:
1.
Mendengarkan
pasif (diam)
Dilakukan
antara lain bila klien sedang menceritakan masalahnya; berbicara tanpa henti,
menggebu-gebu dengan ekspresi perasaan kesal atau sedih. Selain itu bila
berhenti sejenak, konselor dapat dapat mendengar pasif untuk memberikan
kesempatan menenangkan diri
2.
Memberi
tanda perhatian verbal dan nono verbal
3.
Mengajukan
pertanyaan untuk mendalami dan klarifikasi
4.
Mendengar
aktif
Menjadi
pendengar aktif bagi konselor sangat penting karena :
menunjukkan kepedulian, merangsang dan memberanikan klien bereaksi secara
spontan terhadap konselor, menimbulkan situasi yang mengajarkan, klien
membutuhkan gagasan-gagasan baru. Untuk mencapai tujuan dari komunikasi perlu
saling memahami dan saling mendengarkan.
Mendengar aktif
yaitu dengan memberikan umpan balik/ merefleksikan isi ucapan dan perasaan
klien. Melakukan refleksi yang tepat dan menghargai perasaan klien merupakan
hal yang perlu dan penting dalam proses konseling.
Manfaat refleksi adalah:
a.
Mendorong
seseorang menyadari bahwa anda telah dan sedang mendengarkannya dan memahami
apa yang dikatakannya
b.
Memungkinkan
seseorang lebih memahami perasaan emosional dan isi pembicaraannya
c.
Mendorong
seseorang melanjutkan pembicaraanya
Dalam kegiatan
mendengarkan secara aktif ada proses merangkum, merefleksikan atau
paraphrasing, dan refleksi perasaan. Dengan merefleksikan dapat mengecek apakah
yang didengar bidan sesuai dengan apa yang disampaikan oleh klien.
a.
Merangkum
Dalam komunikasi seringkali suatu ungkapan-ungkapan
menggunakan pesan yang panjang lebar. Sebagai wujud penerimaan kita terhadap
ungkapan tersebut, diperlukan keterampilan merangkum. Merangkum adalah
menyampaikan kembali hal-hal inti dari ucapan klien setelah memberi kesempatan
kepada lien untuk berbicara beberapa waktu (Saraswati I, Tarigan L.H. 2001).
Merangkum biasanya dilakukan pada akhir pembicaraan atau saat mau beralih
topik.
b.
Refleksi
isi/paraphrasing
Menyatakan kembali ucapan atau pesan klien dengan
menggunakan kata-kata lain, memberikan masukan kepada klien tentang inti ucapan
yang baru dikatakan klien dengan cara meringkas atau memperjelas ucapan klien.
Biasanya dilakukan dengan menggunakan sebagian dari kata-kata klien dan
ditambah dengan kata-kata konselor.
c.
Refleksi
perasaan
Mengungkapkan perasaan klien yang teramati oleh konselor
dari intonasi suara, raut wajah dan bahasa tubuh klien maupun dari hal-hal yang
tersirat dari kata-kata verbal klien. Hal ini berhubungan dengan emosi klien.
Adapun tujuan refleksi perasaan ini adalah bidan dapat mengerti perasaan klien,
mengetahui emosi klien, dan membantu klien menyelesaikan masalahnya.
Ada beberapa hal
yang sebaiknya dilakukan agar bidan bisa mendengarkan secara efektif:
1.
Punya
motivasi (being motivation),
dengarkan apa yang dikatakan klien dengan seksama dan penuh perhatian dan
bagaimana ia mengatakan hal ini.
2.
Mengadakan
kontak mata (making eye contact), ini
membantu untuk memusatkan perhatian, mengurangi gangguan pada hal-hal sekitar,
mendorong pembicara tetap berminat untuk berbicara
3.
Menunjukkan
minat (showing interest), tunjukkan
bahwa Bidan tertarik pada apa yang dikatakan klien, perasaan-perasaan yang
menyertai, dan kebutuhan-kebutuhan yang terkandung dalam pembicaraan
4.
Menghindari
tindakan-tindakan yang mengganggu (distracting action), duduk menghadap
klien dengan nyaman, hindari gerakan-gerakan yang mengganggu, tetap perhatikan
klien ketika bicara.
5.
Tindakan
memotong pembicaraan (interrupting)
pada saat klien belum menyelesaikan pembicaraannya, kadang lakukan mendengar
pasif (diam), beri waktu klien untuk berfikir, bertanya dan bicara sesuaikan
dengan kecepatan klien
6.
Bersikap
wajar (being natural), tidak
berlebihan dalam usaha untuk mendengar dengan melebih-lebihkan bahasa tubuh.
B. Kemampuan bertanya
Pertanyaan yang
baik dapat membuat orang lebih terbuka, kreatif dan punya keinginan untuk
berbagi informasi atau pengalaman. Keterampilan bertanya dapat dikembangkan
dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut: memperhatikan suasana
konseling, kuasai materi yang berkaitan dengan pertanyaan, ajukan pertanyaan
dengan cara yang jelas dan terarah, segera beri respon dengan sikap baik dan
empati.
1.
Jenis-jenis pertanyaan
a.
Pertanyaan
tertutup
Merupakan pertanyaan yang jawabannya sudah pasti dan ini
biasanya hanya membutuhkan jawaban “ya” atau “tidak” untuk mengumpulkan
informasi yang faktual
b.
Pertanyaan
terbuka
Merupakan pertanyaan yang menuntut jawaban yang
memungkinkan adanya berbagai macam jawaban, dan memberi kebebasan menjawab
kepada klien. Ini akan menuntut partisipasi aktif dari klien dan merupakan cara
efektif untuk menggali informasi dari klien
c.
Pertanyaan
mendalam
Dimaksudkan untuk menggali lebih dalam apa yang sudah
diungkapkan oleh klien, sehingga informasi didapat secara lengkap dan
mendetail.
2.
Bertanya
efektif
Bertanya
efektif kepada klien penting karena:
a.
Dapat
menilai kebutuhan klien
b.
Dapat
menilai pemahaman dan pengalaman klien
c.
Dapat
menghemat waktu bidan dan klien dengan tidak mengulang informasi yang sudah
diketahui klien
Hal-hal
yang harus diperhatikan dalam bertanya efektif
a.
Gunakan
intonasi suara yang menunjukkan perhatian, minat, dan keakraban
b.
Gunakan
kata-kata yang dipahami klien
c.
Ajuka
pertanyaan satu persatu
d.
Gunakan
kata-kata yang mendorong klien untuk tetap berbicara
e.
Bila
menanyakan hal-hal yang sifatnya pribadi, jelaskan mengapa pertanyaan hal
tersebut ditanyakan
f.
Hindari
penggunaan kata tanya “mengapa” karena kemungkinan klien dapat merasa
disalahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar