KETERAMPILAN
OBSERVASI
A. Keterampilan Observasi
Tingkah laku dan
non verbal merupakan objek untuk melakukan observasi atau pengamatan objektif,
meskipun tingkah laku verbal dan non verbal dapat berdiri sendiri akan tetapi
pada kenyataannya verbal dan non verbal tidak bisa dipisahkan, saling
menguatkan arti yang sebenarnya dari suatu tingkah laku. Melalui kepekaan
pengamatan objektif, bidan akan mudah melakukan komunikasi fektif karena
pengamatan objektif (observasi) merupakan keterampilan dasar dalam membina
komunikasi efektif.
Menurut Uripni
C.L et al (2003) dalam bukunya komunikasi kebidanan menyebutkan keterampilan
observasi antara lain adalah :
1. Tingkah
laku verbal
Komunikasi verbal adalah komunikasi yang
menggunakan kata-kata baik secara lisan maupun tulisan. Bahasa verbal merupakan
sarana untuk menyampaikan perasaan, pikiran dan maksud
tujuan. Menurut Larry L. Barker, bahasa mempunyai tiga fungsi yaitu penamaan, interaksi dan
transmisi informasi (Mulyana,
2007).
Tingkah laku non
verbal merupakan perbuatan atau perilaku yang ditunjukkan melalui bahasa atau
kata-kata. Bahasa dicerminkan dengan adanya perbendaharaan kata, penggunaan
kalimat, intonasi, kecepatan berbicara, dan humor. Yang harus dilakukan bidan
dalam melakuakan pengamatan tingkah laku verbal adalah bagaiman klien beralih
topik, kata-kata kunci yang digunakan, penjelasan-penjelasan yang disampaikan,
dan pertanyaan.
2. Tingkah
laku non verbal
Tingkah laku non
verbal merupakan tingkah laku dalam bentuk bahasa tubuh yang meliputi isyarat,
pergerakan tubuh, dan penampilan fisik. Bidan harus dapat melakukan pengamatan
terhadap tingkah laku non verbal dengan memperhatikan bagaimana cara klien
menatap mata, bahasa tubuh, kualitas suara, yang merupakan indikator penting
dalam mengungkapkan apa yang terjadi pada diri klien.
Komunikasi non
verbal memberikan arti pada komunikasi verbal. Dengan kata lain komunikasi
verbal dan non verbal merupakan kegiatan yang saling melengkapi dan dilakukan
secara bersamaan. Komunikasi non verbal dapat berbentuk bahasa tubuh, tanda,
tindakan/perbuatan atau objek.
a)
Bahasa
tubuh
Bahasa tubuh ini meliputi lambaian tangan, raut/ekspresi
wajah, kontak mata, sentuhan, gerakan kepala, sikap/postur tubuh dll
b)
Tanda
Tanda dalam komunikasi non verbal menggantikan kata-kata
misalnya bendera, rambu-rambu lalu lintas, dsb.
c)
Tindakan
atau perbuatan
Tinadakan atau perbuatan secara khusus tidak menggantikan
kata-kata tetapi mengandung makna, misalnya menggrebek meja, menutup pintu
keras-kesar dll. Tindakan tersebut bisa bermakna marah
d)
Objek
e)
Warna
Komunikasi non nerbal dapat berfungsi untuk
a)
Melengkapi
komunikasi verbal
b)
Menekankan
komunikasi verbal
c)
Membesar-besarkan
komunikasi non verbal
d)
Melawan
komunikasi verbal
e)
Meniadakan
komunikasi non verbal
B. Pengamatan dan penafsiran atau
interpretasi
Pengamatan
objektif adalah berbagai tingkah laku yang bisa kita lihat dan kita dengar.
Misalnya menangis, mondar-mandir, dll. Penafsiran atau interpretasi adalah
kesan terhadap apa yang kita lihat dan kita dengar. Misalnya sengan karena
anaknya lahir, dll. Interpretasi dapat diartikan sebagai suatu usaha konselor
untuk memberitahukan suatu arti kepada konseli. Konselor membantu klien dengan
memberitahu dugaan tentang hubungan atau makna tingkah laku untuk
dipertimbangkan oleh klien. Dengan demikian klien memiliki kebebasan untuk
menyelesaikan masalahnya. Data yang diinterpretasikan oleh klien dalam
konseling digolongkan menjadi dua kategori yang masing-masing mempunyai
interpretasi yang berbeda. Kategori yang pertama adalah data yang dijabarkan
dari data objektif sedangkan kategori kedua adalah data dari hasil selama
proses konseling.
Tahap-tahap
interpretasi
1.
Refleks
perasaan, yaitu konselor tidak pergi jauh dari apa yang dikatakan klien, dengan refleksi perasaan apa yang
dihati klien didengar oleh konselor.
2.
Klarifikasi
yaitu menjelaskan apa yang tersirat dalam perkataan klien
3.
Refleksi
yaitu penilaian konselor terhadap apa yang diungkapkan klien
4.
Konfrontasi
yaitu konselor membawa kepada perhatian cita-cita dan perasaan klien yang
tersirat tetapi tidak disadari
5.
Interpretasi
yaitu konselor memperkenalkan konsep-konsep, hubungan dan pertalian baru yang
berakar dalam pengalaman klien.
C. Keterampilan membina hubungan baik
Keterampilan
membina hubungan yang baik merupakan pondasi atau dasar dalam melakukan
komunikasi interpersonal, membina hubungan baik dilakukan oleh bidan sejak
kontak awal dengan klien dan harus dipertahankan. Yang harus dimiliki oleh
bidan untuk membina hubungan baik dengan klien adalah sebagai berikut:
1.
Perilaku
respon positif yang mendukung terjadinya hubungan baik meliputi bersalaman
dengan ramah, mempersilahkan duduk, bersabar, tidak memotong pembicaraan,
menjaga kerahasiaan klien, tidak melakukan penilaian, mendengarkan dengan penuh
perhatian, menanyakan alasan kedatangan klien, serta menghargai apapun
pertanyaan maupun pendapat klien.
2.
Sikap
hangat, menghormati, menerima klien apa adanya, empati, dan tulus
Kunci
pokok dalam membina hubungan baik dengan klien adalah SOLER
S : Face
your client Squerly (menghadap ke arah klien) dan smile/Nod at Client (senyum/mengangguk ke klien)
O : Open
and non-judgemental facial expression (ekspresi muka menunjukkan sikap
terbuka dan tidak menilai)
L
: Lean towards client (tubuh condong
ke arah klien)
E : Eye
contact in a culturally-acceptable manner (kontak mata sesuai cara yang
diterima oleh budaya setempat)
R
: Relaxied and friendly manner (santai
dan sikap bersahabat)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar