Kamis, 18 Juni 2015

Keterampilan Observasi

KETERAMPILAN OBSERVASI

A.    Keterampilan Observasi
Tingkah laku dan non verbal merupakan objek untuk melakukan observasi atau pengamatan objektif, meskipun tingkah laku verbal dan non verbal dapat berdiri sendiri akan tetapi pada kenyataannya verbal dan non verbal tidak bisa dipisahkan, saling menguatkan arti yang sebenarnya dari suatu tingkah laku. Melalui kepekaan pengamatan objektif, bidan akan mudah melakukan komunikasi fektif karena pengamatan objektif (observasi) merupakan keterampilan dasar dalam membina komunikasi efektif.
Menurut Uripni C.L et al (2003) dalam bukunya komunikasi kebidanan menyebutkan keterampilan observasi antara lain adalah :

1.      Tingkah laku verbal
Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata baik secara lisan maupun tulisan. Bahasa verbal merupakan sarana untuk menyampaikan perasaan, pikiran dan maksud tujuan. Menurut Larry L. Barker, bahasa mempunyai tiga fungsi yaitu penamaan, interaksi dan transmisi informasi (Mulyana, 2007).
Tingkah laku non verbal merupakan perbuatan atau perilaku yang ditunjukkan melalui bahasa atau kata-kata. Bahasa dicerminkan dengan adanya perbendaharaan kata, penggunaan kalimat, intonasi, kecepatan berbicara, dan humor. Yang harus dilakukan bidan dalam melakuakan pengamatan tingkah laku verbal adalah bagaiman klien beralih topik, kata-kata kunci yang digunakan, penjelasan-penjelasan yang disampaikan, dan pertanyaan.

2.      Tingkah laku non verbal
Tingkah laku non verbal merupakan tingkah laku dalam bentuk bahasa tubuh yang meliputi isyarat, pergerakan tubuh, dan penampilan fisik. Bidan harus dapat melakukan pengamatan terhadap tingkah laku non verbal dengan memperhatikan bagaimana cara klien menatap mata, bahasa tubuh, kualitas suara, yang merupakan indikator penting dalam mengungkapkan apa yang terjadi pada diri klien.
Komunikasi non verbal memberikan arti pada komunikasi verbal. Dengan kata lain komunikasi verbal dan non verbal merupakan kegiatan yang saling melengkapi dan dilakukan secara bersamaan. Komunikasi non verbal dapat berbentuk bahasa tubuh, tanda, tindakan/perbuatan atau objek.


a)      Bahasa tubuh
Bahasa tubuh ini meliputi lambaian tangan, raut/ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, gerakan kepala, sikap/postur tubuh dll
b)      Tanda
Tanda dalam komunikasi non verbal menggantikan kata-kata misalnya bendera, rambu-rambu lalu lintas, dsb.
c)      Tindakan atau perbuatan
Tinadakan atau perbuatan secara khusus tidak menggantikan kata-kata tetapi mengandung makna, misalnya menggrebek meja, menutup pintu keras-kesar dll. Tindakan tersebut bisa bermakna marah
d)     Objek
e)      Warna
Komunikasi non nerbal dapat berfungsi untuk
a)      Melengkapi komunikasi verbal
b)      Menekankan komunikasi verbal
c)      Membesar-besarkan komunikasi non verbal
d)     Melawan komunikasi verbal
e)      Meniadakan komunikasi non verbal
1.      Melengkapi komunikasi verbal
2.      Menekankan komunikasi verbal
3.      Membesar-besarkan komunikasi non verbal
4.      Melawan komunikasi verbal
5.      Meniadakan komunikasi non verbal

B.     Pengamatan dan penafsiran atau interpretasi
Pengamatan objektif adalah berbagai tingkah laku yang bisa kita lihat dan kita dengar. Misalnya menangis, mondar-mandir, dll. Penafsiran atau interpretasi adalah kesan terhadap apa yang kita lihat dan kita dengar. Misalnya sengan karena anaknya lahir, dll. Interpretasi dapat diartikan sebagai suatu usaha konselor untuk memberitahukan suatu arti kepada konseli. Konselor membantu klien dengan memberitahu dugaan tentang hubungan atau makna tingkah laku untuk dipertimbangkan oleh klien. Dengan demikian klien memiliki kebebasan untuk menyelesaikan masalahnya. Data yang diinterpretasikan oleh klien dalam konseling digolongkan menjadi dua kategori yang masing-masing mempunyai interpretasi yang berbeda. Kategori yang pertama adalah data yang dijabarkan dari data objektif sedangkan kategori kedua adalah data dari hasil selama proses konseling.
Tahap-tahap interpretasi
1.      Refleks perasaan, yaitu konselor tidak pergi jauh dari apa yang dikatakan  klien, dengan refleksi perasaan apa yang dihati klien didengar oleh konselor.
2.      Klarifikasi yaitu menjelaskan apa yang tersirat dalam perkataan klien
3.      Refleksi yaitu penilaian konselor terhadap apa yang diungkapkan klien
4.      Konfrontasi yaitu konselor membawa kepada perhatian cita-cita dan perasaan klien yang tersirat tetapi tidak disadari
5.      Interpretasi yaitu konselor memperkenalkan konsep-konsep, hubungan dan pertalian baru yang berakar dalam pengalaman klien.

C.    Keterampilan membina hubungan baik
Keterampilan membina hubungan yang baik merupakan pondasi atau dasar dalam melakukan komunikasi interpersonal, membina hubungan baik dilakukan oleh bidan sejak kontak awal dengan klien dan harus dipertahankan. Yang harus dimiliki oleh bidan untuk membina hubungan baik dengan klien adalah sebagai berikut:
1.      Perilaku respon positif yang mendukung terjadinya hubungan baik meliputi bersalaman dengan ramah, mempersilahkan duduk, bersabar, tidak memotong pembicaraan, menjaga kerahasiaan klien, tidak melakukan penilaian, mendengarkan dengan penuh perhatian, menanyakan alasan kedatangan klien, serta menghargai apapun pertanyaan maupun pendapat klien.
2.      Sikap hangat, menghormati, menerima klien apa adanya, empati, dan tulus
Kunci pokok dalam membina hubungan baik dengan klien adalah SOLER
S : Face your client Squerly (menghadap ke arah klien) dan smile/Nod at Client (senyum/mengangguk ke klien)
O : Open and non-judgemental facial expression (ekspresi muka menunjukkan sikap terbuka dan tidak menilai)
L : Lean towards client (tubuh condong ke arah klien)
E : Eye contact in a culturally-acceptable manner (kontak mata sesuai cara yang diterima oleh budaya setempat)
R : Relaxied and friendly manner (santai dan sikap bersahabat)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar