Kamis, 18 Juni 2015

Menjadi Pendengar yang Baik

MENJADI PENDENGAR YANG BAIK

A.    Mendengar aktif
Keterampilan mendengarkan dalam komunikasi interpersonal dan konseling (KIP/K) terdapat 4 bentuk mendengarkan yang bisa kita gunakan sesuai dengan situasi yang dihadapi, yaitu:
1.      Mendengarkan pasif (diam)
Dilakukan antara lain bila klien sedang menceritakan masalahnya; berbicara tanpa henti, menggebu-gebu dengan ekspresi perasaan kesal atau sedih. Selain itu bila berhenti sejenak, konselor dapat dapat mendengar pasif untuk memberikan kesempatan menenangkan diri
2.      Memberi tanda perhatian verbal dan nono verbal
3.      Mengajukan pertanyaan untuk mendalami dan klarifikasi
4.      Mendengar aktif

Menjadi pendengar aktif  bagi konselor sangat penting karena : menunjukkan kepedulian, merangsang dan memberanikan klien bereaksi secara spontan terhadap konselor, menimbulkan situasi yang mengajarkan, klien membutuhkan gagasan-gagasan baru. Untuk mencapai tujuan dari komunikasi perlu saling memahami dan saling mendengarkan.
Mendengar aktif yaitu dengan memberikan umpan balik/ merefleksikan isi ucapan dan perasaan klien. Melakukan refleksi yang tepat dan menghargai perasaan klien merupakan hal yang perlu dan penting dalam proses konseling.

Manfaat refleksi adalah:
a.       Mendorong seseorang menyadari bahwa anda telah dan sedang mendengarkannya dan memahami apa yang dikatakannya
b.      Memungkinkan seseorang lebih memahami perasaan emosional dan isi pembicaraannya
c.       Mendorong seseorang melanjutkan pembicaraanya

Dalam kegiatan mendengarkan secara aktif ada proses merangkum, merefleksikan atau paraphrasing, dan refleksi perasaan. Dengan merefleksikan dapat mengecek apakah yang didengar bidan sesuai dengan apa yang disampaikan oleh klien.

a.       Merangkum
Dalam komunikasi seringkali suatu ungkapan-ungkapan menggunakan pesan yang panjang lebar. Sebagai wujud penerimaan kita terhadap ungkapan tersebut, diperlukan keterampilan merangkum. Merangkum adalah menyampaikan kembali hal-hal inti dari ucapan klien setelah memberi kesempatan kepada lien untuk berbicara beberapa waktu (Saraswati I, Tarigan L.H. 2001). Merangkum biasanya dilakukan pada akhir pembicaraan atau saat mau beralih topik.

b.      Refleksi isi/paraphrasing
Menyatakan kembali ucapan atau pesan klien dengan menggunakan kata-kata lain, memberikan masukan kepada klien tentang inti ucapan yang baru dikatakan klien dengan cara meringkas atau memperjelas ucapan klien. Biasanya dilakukan dengan menggunakan sebagian dari kata-kata klien dan ditambah dengan kata-kata konselor.

c.       Refleksi perasaan
Mengungkapkan perasaan klien yang teramati oleh konselor dari intonasi suara, raut wajah dan bahasa tubuh klien maupun dari hal-hal yang tersirat dari kata-kata verbal klien. Hal ini berhubungan dengan emosi klien. Adapun tujuan refleksi perasaan ini adalah bidan dapat mengerti perasaan klien, mengetahui emosi klien, dan membantu klien menyelesaikan masalahnya.

Ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan agar bidan bisa mendengarkan secara efektif:
1.      Punya motivasi (being motivation), dengarkan apa yang dikatakan klien dengan seksama dan penuh perhatian dan bagaimana ia mengatakan  hal ini.
2.      Mengadakan kontak mata (making eye contact), ini membantu untuk memusatkan perhatian, mengurangi gangguan pada hal-hal sekitar, mendorong pembicara tetap berminat untuk berbicara
3.      Menunjukkan minat (showing interest), tunjukkan bahwa Bidan tertarik pada apa yang dikatakan klien, perasaan-perasaan yang menyertai, dan kebutuhan-kebutuhan yang terkandung dalam pembicaraan
4.      Menghindari tindakan-tindakan yang mengganggu  (distracting action), duduk menghadap klien dengan nyaman, hindari gerakan-gerakan yang mengganggu, tetap perhatikan klien ketika bicara.
5.      Tindakan memotong pembicaraan (interrupting) pada saat klien belum menyelesaikan pembicaraannya, kadang lakukan mendengar pasif (diam), beri waktu klien untuk berfikir, bertanya dan bicara sesuaikan dengan kecepatan klien
6.      Bersikap wajar (being natural), tidak berlebihan dalam usaha untuk mendengar dengan melebih-lebihkan bahasa tubuh.




B.     Kemampuan bertanya
Pertanyaan yang baik dapat membuat orang lebih terbuka, kreatif dan punya keinginan untuk berbagi informasi atau pengalaman. Keterampilan bertanya dapat dikembangkan dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut: memperhatikan suasana konseling, kuasai materi yang berkaitan dengan pertanyaan, ajukan pertanyaan dengan cara yang jelas dan terarah, segera beri respon dengan sikap baik dan empati.
1.      Jenis-jenis pertanyaan
a.       Pertanyaan tertutup
Merupakan pertanyaan yang jawabannya sudah pasti dan ini biasanya hanya membutuhkan jawaban “ya” atau “tidak” untuk mengumpulkan informasi yang faktual
b.      Pertanyaan terbuka
Merupakan pertanyaan yang menuntut jawaban yang memungkinkan adanya berbagai macam jawaban, dan memberi kebebasan menjawab kepada klien. Ini akan menuntut partisipasi aktif dari klien dan merupakan cara efektif untuk menggali informasi dari klien
c.       Pertanyaan mendalam
Dimaksudkan untuk menggali lebih dalam apa yang sudah diungkapkan oleh klien, sehingga informasi didapat secara lengkap dan mendetail.
2.      Bertanya efektif
Bertanya efektif kepada klien penting karena:
a.       Dapat menilai kebutuhan klien
b.      Dapat menilai pemahaman dan pengalaman klien
c.       Dapat menghemat waktu bidan dan klien dengan tidak mengulang informasi yang sudah diketahui klien
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam bertanya efektif
a.       Gunakan intonasi suara yang menunjukkan perhatian, minat, dan keakraban
b.      Gunakan kata-kata yang dipahami klien
c.       Ajuka pertanyaan satu persatu
d.      Gunakan kata-kata yang mendorong klien untuk tetap berbicara
e.       Bila menanyakan hal-hal yang sifatnya pribadi, jelaskan mengapa pertanyaan hal tersebut ditanyakan

f.       Hindari penggunaan kata tanya “mengapa” karena kemungkinan klien dapat merasa disalahkan.

Peranan Bidan sebagai Komunikator

PERANAN BIDAN SEBAGAI KOMUNIKATOR

Perawatan kebidanan merupakan bentuk pelayanan profesional yang diberikan oleh bidan kepada individu, keluarga, masyarakat, untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan, khususnya pelayanan kebidanan.

Dalam memberikan pelayanan kebidanan ini, peranan komunikasi antara bidan dengan klien sangat menentukan keberhasilan hasil dan mutu pelayanan yang diberikan.

Disinilah peranan komunikasi amat penting, karena fungsi bidan diantaranya adalah mentransformasikan nilai – nilai perawatan kebidanan kepada ibu, sehingga ibu dapat menerima kehamilan, memelihara serta menjaga kehamilannya yang akhirnya ibu dapat melahirkan dengan lancar dan mencegah resiko – resiko yang tidak diinginkan.

Pada intinya bidan sebagai komunikator harus mampu mentransformasikan proses adaptasi / penyesuaian terhadap calon, ibu, ibu hamil, ibu melahirkan dan ibu menyusui sehingga ibu dapat beradaptasi dengan peristiwa – peristiwa sebagai akibat perkawinan, dan kehamilannya untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan mentalnya. Sehubungan dengan hal – hal tersebut, maka bidan sebagai komunikator mempunyai kewajiban sebagai berikut.

1.        Sebagai penyampai pesan seorang bidan harus mempersiapkan pesan yang akan disampaikan sebaik-baiknya mudah dimengerti oleh klien, sesuai dengan latar belakang dan kondisi klien.
2.        Pesan yan telah disiapkan dengan baik, dalam menyampaikan dengan klien dapat dilaksanakan dengan verbal maupun nonverbal. Sikap, penampilan dan ekspresi klien harus mencerminkan rela membantu dan tanpa pamrih.
3.        Jika pesan yang akan disampaikan akan menimbulkan kegoncangan pada psikologis klien, dan pesan itu harus disampaikan, maka bidan harus mempersiapkan klien sehingga klien betul – betul siap untuk menerima keadaan yang paling buruk misalnya.
4.        Setiap menyampaikan pesan, perlu diperhatikan psikologis klien, jangan sampai pesan yang bersifat rahasia disampaikan dihadapan klien lain.
5.        Respon klien merupakan balikan bagi bidan terhadap pelayanan yang telah diberikan. Bidan hendaknya sensitif terhadap setiap respon yang diungkapkan oleh klien. Bagi bidan setiap respon apapun sangat berarti untuk mengevaluasi pelayanan yang telah diberikan.
6.        Bidan dalam melaksanakan perawatan kebidanan merupakan suatu satu tim. Oleh karena itu ada keterkaitan dengan unsur atau pihak lain dalam perawatan klien, misalnya dengan bagian laboratorium, bagian rontgen, bagian gizi, dokter ahli lainnya, psikiater, psikolog dan lain – lainnya. Sebagai komunikator, bidan harus mempersiapkan data – data klien selengkap-lengkapnya, sehingga dalam berkomunikasi dengan pihak lain tidak akan merugikan klien.
7.        Dalam berkomunikasi dengan tim, bidan harus menunjukkan kedewasaan sebagai tenaga profesional. Dewasa dalam arti sikap dan penampilan serta tindakan.

8.        Sebagai bidan di desa, wawasan komunikasi lebih luas. Disamping secara langsung kepada klien serta keluarganya juga kepada masyarakat dan dukun. 

Kegiatan Kelompok sebagai Salah Satu Kegiatan Bidan

KEGIATAN KELOMPOK SEBAGAI SALAH SATU KEGIATAN BIDAN

A.    Kegiatan Kelompok sebagai Salah Satu kegiatan Bidan
1.      Defenisi
Komunikasi kelompok adalah suatu bentuk komunikasi antara dua atau lebih orang yang berinteraksi satu dengan yang lain untuk satu tujuan. Orang-orang yang terlibat biasanya mengisi peran-peran dan mentaati peraturan-peraturan serta norma-norma yang secara implisit disetujui para anggotanya (ningsih, 2003).

2.      Kegunaan
Berdasarkan batasan tersebut diatas, kegunaan dalam bidang kebidanan tentulah sangat menunjang tujuan bagi kesehatan ibu dan anak. Utamanya ketika dilakukan suatu kegiatan-kegiatan bagi para bidan dalam sistem komunikasi kelompok tersebut, selama melalui forum tersebut dimanfaatkan seefektif mungkin dalam berbagai bentuk dan tujuan, yakni berfokus pada kesehatan ibu dan anak tersebut. Dalam hal ini, Handy (1985) memberikan pengertian mengenai pentingnya kegunaan komunikasi kelompok, yakni :
a.       Memenuhi kebutuhan sosial
b.      Membentuk konsep diri
c.       Memberi/menerima dukungan dan bantuan
d.      Berbagai dengan orang lain

B.     Kepemimpinan dalam Kelompok
Cirri-ciri kepemimpinan dalam kelompok harus mengacu untuk kepentingan bersama. Untuk itu harus memenuhi persyaratan dibawah ini :
1.      Berorientasi pada tugas
2.      Menggunakan waktu secara efektif, menentukan prioritas secara jelas dan sering membuat keputusan eksekutif
3.      Berorientasi pada orang
4.      Lebih peduli pada perasaan-perasaan dan masalah-masalah anggota kelompok.


C.    Cirri-ciri Kelompok yang Kompak
Kemudian setelah kita mengenal cirri-ciri kepemimpinan seperti diatas, maka kita harus tahu bagaimana cirri-ciri kelompok yang kompak itu, ciri-ciri kelompok yang kompak adalah :
1.      Organisasi yang baik
2.      Hubungan yang baik
3.      Riwayat keberhasilan yang baik
Adapun salah satu bentuk ketiga cirri tersebut diatas ialah bagaimana cara menyelesaikan masalah dalam kelompok itu dimulai dengan kelompok pembuat keputusan, ada personal atau tim yang ditunjuk oleh manajer untuk menyelesaikan masalah tertentu. Anggota kelompok yang lain memberikan sumbang saran, cepat, agar terjadi pemahaman dalam penyelesaian masalah. Itulah tanda adanya cirri-ciri kelompok kompak dan prakteknya.
Disamping itu, pada kelompok yang kompak memiliki empat dasar pelaksanaan sumbang saran yang harus ditaati, yakni :
1.      Tidak boleh dilakukan penilaian pad aide-ide sampai acara selesai
2.      Kelompok harus menganggap dirinya sebagai penghasil sejumlah besar ide dan tidak mengkhawatirkan kualitas dari ide-ide
3.      Anggota kelompok harus dibiarkan untuk berfikir dengan bebas
4.      Ide-ide yang ditawarkan anggota kelompok harus dihargai dan dikembangkan oleh anggota kelompok lain.
Gaya kepemimpinan dalam suatu kelompok komunikasi ada dua yakni :
1.      Gaya tunggal yaitu berdasarkan pencapaian tugas yang telah ditentukan bagi kelompok
2.      Gaya Eklektik yaitu berdasarkan gaya-gaya yang berpusat pada anggota kelompok atau berdasarkan pembagian pada tugas
Karakteristik kelompok menurut Hargreavest (1975) adalah
1.      Anggotanya memiliki hubungan tatap muka
2.      Terdapat lebih dari satu anggota
3.      Anggotanya memiliki tujuan atau maksud bersama
4.      Anggotanya dibeda-bedakan kedalam struktur
5.      Anggotanya menganut sekumpulan norma-norma
Sifat dari kelompok Charles H. Cooley membuat penggolongan kelompok sosial dalam penggolongan utama yaitu :
1.      Primary Group : kelom[pok primer lebih intensif dan lebih intensif dan lebih erat antara anggotanya ( Face to Face)
2.      Secondary group : kelompok sekunder
Komunikasi dalam kelompok sekunder merupakan komunikasi dalam hubungan yang tidak langsung, tidak akrab, kurang bersifat kekurangan dan bersifar formal, lebih objektif.

D.       Membangun Tim atau Kelompok / Team bulding
1.      Pengertian
Team bulding adalah suatu upaya yang dibuat secara sadar untuk mengembangkan kerja kelompok dalam suatu organisasi.
2.      Perlunya membangun tim/ team bulding
Pada prinsipnya kita memerlukan team bulding untuk memperbaiki kinerja kelompok yang kita miliki, namun ada beberapa kondisi yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan team bulding antara lain :
a.       Kondisi kelompok yang memerlukan peningkatan moralitas dan hasil kerja tim
b.      Puncak pimpinan yang jarang berfikir dan bertindak sebagai bagian sebuah kelompok
c.       Terjadi kurang pengertian antara sesame anggota kelompok, tidak ada arahan dan semangat kerja yang timbul dalam suatu kelompok sehingga kelompok kehilangan arah kerja
d.      Dalam kelompok baru dinama terdapat beberapa individu yang menonjol tapi tidak dapat bekerja bersama dalam kelompok
e.       Kurangnya rasa percaya diri antara sesama tim dan adanya ketidaktahuan akan kemungkinan peluang yang dapat dilakukan oleh anggota tim.
3.      Manfaat membangun Tim/ Team bulding
Team bulding yang dilakukan secara benar dan berkesinabungan akan memberikan hasil perubahan yang sering kali jauh lebih baik dari dugaan semula.
a.       Bagi pimpinan tim/ kelompok
1.      Pimpinan tim akan menjadi lebih kuat dan lebih efektif
2.      Pimpinan tim utama menyesuaikan gaya kepemimpinannya, dengan lebih memperhatikan kepentingan dan tanggung jawab kelompok dibandingkan kepentingan pribadi
3.      Terdapat apresiasi yang lebih besar dari pimpinan tim terhadap kebutuhan anggota tim dan bagian-bagian dalam tim
4.      Pimpinan menjadi lebih mampu untuk berkomunikasi secara langsung kepada anggota tim sehingga terjadi hubungan pengertian yang lebih baik antara pimpinan dan anggota tim
5.      Pimpinan tim memiliki inisiatif untuk lebih memahami prakasa anggotanya
6.      Pimpinan mempunyai komitmen yang lebih tinggi terhadap sasaran kerja dan memiliki harapan yang lebih besar.
b.      Bagi individu anggota tim/kelompok
1.      Sebagai besar individu memiliki pendekatan yang lebih persuasif, toleransi menjadi lebih tinggi dan memiliki kepercayaan untuk mengajukan argumentasi tanpa terikat oleh hirarki
2.      komunikasi dan dialog antar sesama anggota kelompok menjadi lebih bebas dan terbuka, yang selama ini menjadi salah satu hambatan utama dalam perkembangan kelompok
3.      terdapat ‘ ruang’ yang lebih terbuka untuk mengakui beberapa kelemahan-kelemahan pribadi, bahkan kadang kala tidak jarang yang mengundurkan dirikarena kesadaran sendiri.
4.      banyak masalah antara pribadi sesama anggota tim/ kelompok selama ini mengganjal dapat dipecahkan dengan lebih mudah karena keterbukaan semua anggota tim

c.       bagi pelaksana kerja tim/ kelompok
1.      pertemuan tim/ kelompok menjadi lebih struktur dan efektif
2.      hasil yang diperoleh lebih dapat diterima dan terdistribusi dengan baik kepada sesama peserta
3.      terjadi perbaikan kerja dalam mencapai sasaran, peningkatan kemampuan dalam mengevaluasi individu dan kelompok dengan cara yang lebih profesional
4.      tingkat komunikasi dalam dan antara kelompok menjadi lebih komprehenshif dan efektif, walaupun dalam kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan
5.      komitmen yang lebih kuat terdapat sasaran-saran baru
6.      terciptanya otonomi yang lebih besar pada tingkat manajemen
7.      lebih banyak waktu digunakan untuk bekerja untuk bekerja sama dengan kkolega dan bekerja sama dalam mencapai tujuan

E.       Strategi menghadapi kelompok peserta yang kurang mendukung kelancaran kegiatan
1.      Tife pasif
a.       anjuran pertanyaan langsung pada peserta bersangkutan
b.      mintalah mereka berbagi rasa berpasang-pasangan
c.       mintalah untuk menulis komentar atau jawaban pertanyaan
d.      berikan insentif kecil\
e.       merubah metode penyampaian dengan kegiatan yang lebih menarik atau permainan
2.      Tipe agresif
a.       anjurkan pertanyaan tentang sebab sikap agresifnya
b.      beri kesempatan dan curahkan perasaan-perasaan tentang keadaan
c.       jangan menganggap orang tersebut mewakili kelompok , cek dengan kelompok (apakah semua orang berpikir seperti itu)
d.      persentasikan data
e.       prakarsai diskusi secara pribadi
3.      Tipe banyak bicara
a.       beri tanggung jawab tertentu atau berikan kesempatan berperan sebagai pimpinan kelompok
b.      hindarkan pandangan terhadap peserta yang banyak bicara atau hadapkan tubuh pemandu kearah peserta lain
c.       jika perlu beritahu peserta yang banyak bicara ini secara halus bahwa pendapatnya menarik, tapi kita juga membutuhkan pendapat yang lain.
d.      jika perlu beritahu peserta yang banyak bicara ini secara halus bahwa pendapatnya menarik
e.       beri tugas menulis secara rinci tentang pendapatnya pada secarik kertas
4.      Tipe Pesimis
a.       jadilah pendengar aktif
b.      beri jawaban yang lebih positif atas ungkapan ungkapan pesimisnya
c.       tanyakan pendapat anggota lainnya tentang pendapat si pesimis tersebut
5.      Tipe Pelawak
a.       beri mereka tanggung jawab
b.      ajukan pertanyaan atau mintalah pendapat dan abaikan kata-kata lawakan mereka. Pertimbangkan bahwa lawakan tertentu dapat mencairkan suasana